Asuransi Mobil Otomate

Paket asuransi Mobil terlengkap dari ACA asuransi yang menyediakan mobil pengganti.

Asuransi Pengangkutan (Marine Cargo)

Asuransi pengangkutan ACA menawarkan proteksi lengkap terhadap risiko-risiko yang mengancam barang Anda yang diangkut baik melalui darat, laut, maupun udara..

Jumat, 20 Juli 2018

Tuntutan Pada Asuransi Tanggung Gugat (Liability Insurance)


Asuransi tanggung gugat atau disebut Liability Insurance seperti contoh public liability, Professional Liability, Product Liability, Employers Liability, Comprehensive General Liability, menjamin tuntutan pihak ketiga yang mengalami kerugian akibat dari kelalaian tertanggung.  Namun harus berdasarkan hukum.  Bila tidak berdasarkan hukum maka tuntutan tidak bisa bayar ganti ruginya. 



Ganti rugi yang dibayarkan biasanya dibatasi berdasarkan :

1. any one occurrence atau any one event atau any one accident artinya limit berlaku setiap kali kejadian

2. annual aggregate claim artinya limit klaim yang terjadi dalam jangka waktu satu tahun



Disamping itu setiap ganti rugi dikenakan yang namanya deductible atau resiko sendiri.  Deductible ini adalah bagian dari yang harus dibayar oleh tertanggung, supaya tertanggung akan bertindak lebih hati-hati.  Dengan sistim deductible ini tertanggung ikut memikul ganti rugi setiap kali terjadi klaim. 

Kamis, 19 Juli 2018

Underwriting Asuransi Kredit Semakin Selektif Memilah Potensi Bisnis yang Sehat


Bisnis asuransi kredit diperkirakan bakal meningkat seiring kenaikan suku bunga acuan. Namun di sisi lain, bisnis di lini usaha ini diperkirakan juga akan makin ketat dalam menyeleksi bisnisnya.

Pasalnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe mengatakan kenaikan bunga pinjaman biasanya diikuti oleh potensi meningkatnya kredit macet, sejalan dengan makin besarnya bunga yang harus dibayarkan debitur.

Di sisi lain, kredit macet juga bisa meningkatkan potensi pengajuan klaim kepada pemain asuransi kredit. Karena itu, upaya preventif menjadi salah satu strategi yang penting untuk diterapkan.

Tentunya pelaku usaha yang memasarkan asuransi kredit menurut dia, akan makin selektif untuk memilah potensi bisnis yang sehat. "Misalnya di segmen kredit konsumtif akan lebih ketat underwritingnya," katanya belum lama ini.

Terlebih, di periode awal tahun ini rasio klaim dari lini bisnis ini sedikit meningkat dari 58% di kuartal I-2017 menjadi 58,5% pada kuartal I-2018.

Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan klaim asuransi kredit yang mencapai 68% secara tahunan. Sampai bulan Maret 2018, pembayaran klaim di lini usaha ini mencapai Rp 857,8 miliar.

Di saat yang sama, premi yang dikantongi pelaku usaha naik 34,5% menjadi Rp 1,4 triliun.

sumber: kontan 

Kamis, 12 Juli 2018

10 Negara Asean Bahas Asuransi Lintas Batas Negara



Negara-negara anggota Asean berkumpul di Bali untuk membahas asuransi lintas batas negara yang akan melindungi masalah kecelakaan di jalan dan perlindungan atas arus barang bebas di kawasan ini.

Pertemuan ini merupakan dialog lanjutan dari Rapat Kelompok Kerja Council of Bureaux (CoB) ke-4 yang dilaksanakan pada 28-29 September 2017 di Udon Thani, Thailand dan pertemuan tahunan ke-18 dengan Regulator Asuransi Asean pada 20 November 2017 di Vientiane, Laos.

Dalam acara ini, akan dilakukan penyusunan rencana penerapan asuransi tanggung jawab pihak ketiga lintas batas untuk mempercepat implementasi Protokol 5 yakni Skema Asean Asuransi Motor Wajib dari Perjanjian Kerangka Kerja ASAseanEAN tentang Fasilitasi Barang dalam Transit (AFAFGIT).

Adapun Protokol 5 dari AFAFGIT ditandatangani pada 8 April 2001 di Kuala Lumpur, Malaysia. Penandatanganannya diikuti oleh pembentukan Asean Council of Bureaux (CoB), yang terdiri dari perwakilan dari semua biro asuransi nasional di kawasan ini.

Direktur Manajemen Risiko dan Teknologi Informasi PT Jasa Raharja (Persero) Wahyu Wibowo mengatakan asuransi lintas batas negara ini mirip dengan perlindungan antar provinsi yang sudah berlaku di Indonesia. Misalnya, ketika orang dari Bali bepergian ke Jawa, maka akan terlindungi asuransi.

Bedanya, inisiatif asuransi ini tidak hanya melindungi perjalanan dalam satu negara tetapi hingga seluruh wilayah Asean. Selain itu, tidak melindungi cedera tubuh seperti meninggal atau luka-luka tetapi juga kerusakan barang saat terjadi kecelakan.

Dia menjelaskan asuransi tersebut akan diimplementasikan dalam bentuk Blue Card Scheme. Inisiatif itu akan memfasilitasi asuransi kendaraan bermotor, memperkuat pencegahan kecelakaan lalu lintas jalan, hingga pelindungan atas distribusi barang antar negara Asean.

“Jadi, setiap warga Asean dilindungi dengan asuransi yang istilahnya meringankan jika terjadi kecelakaan,” terang Wahyu, Rabu (11/7/2018).

Asuransi tersebut dinilai sangat diperlukan untuk memajukan perekonomian kawasan karena dapat mempermudah serta mengembangkan transaksi ekonomi. Apalagi, potensi ekonomi di regional Asean sangat tinggi.

“Asuransi sektor penting untuk memajukan perekonomian dalam lintas batas negara. Tanpa asuransi, semua transaksi tidak bisa terjadi,” lanjutnya.

Selain Indonesia, negara Asean lainnya juga menerapkan hal serupa. Namun, setiap melakukan perjalanan lintas batas negara, masing-masing individu akan dimintai pajak sebagai bagian dari perlindungan dan asuransi.

Jika asuransi lintas batas negara ini rampung, maka setiap warga negara di kawasan Asean bebas masuk tanpa dibiayai pungutan perlindungan diri.

“Misalnya, dari Bali ingin menuju Thailand lewat darat, kan perjalanannya melewati Sumatra kemudian menyebrang ke Malaysia sampai tiba di Thailand. Semua kami jamin termasuk jika nantinya ada tabrakan di Thailand. Jadi, ini juga memberi kemudahan jika terjadi kecelakan di sana karena sudah akan ada yang mengurusi,” papar Wahyu.

Pertemuan ini akan mencakup diskusi tentang tantangan penerapan Blue Card Scheme dengan tujuan menemukan solusi teknisnya. Hasil yang diharapkan dari Kelompok Kerja akan menjadi rekomendasi yang akan diajukan ke CoB, termasuk rencana aksi jika memungkinkan.

sumber: bisnis 

Industri Galangan Kapal Terus Dipacu

                                                                         ilustrasi 

Pemerintah telah menempatkan industri kemaritiman sebagai salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya. Sektor tersebut meliputi industri galangan kapal dan penunjangnya. Ini merupakan bentuk komitmen untuk mewujudkan Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, melalui visinya Pemerintah terus memacu agar sektor industri maritim yang dimiliki Indonesia berdaya saing tinggi di tingkat global. Saat ini perkembangan sektor industri galangan kapal dunia didominasi oleh Cina, Korea Selatan, dan Jepang.

Bagi Indonesia, sektor maritim bukan hanya berfungsi untuk meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai simbol kekuatan dan kedaulatan negara. Bahkan, sektor ini mempunyai peran penting untuk menyatukan wilayah yang tersebar di Indonesia. "Kami ingin kapasitas industri galangan kapal nasional bisa naik hingga 2-3 kali lipat,” kata Airlangga dalam siaran persnya, Selasa (3/7).

Airlangga meyakini industri galangan kapal Indonesia mampu meningkatkan kemampuan produksinya mengingat upaya penguatan sarana transportasi laut guna mewujudkan konektivitas antar wilayah. Selain itu, pasar internasional juga masih prospektif. 

Pada tahun 2017, tercatat jumlah order pembangunan kapal di Indonesia sebesar 218.300 gross tonnage (GT). Pembangunan kapal di Indonesia mayoritas untuk mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri sebesar 83%, yang diperkirakan sebanyak 120 unit atau 135.440 GT. Sedangkan, sisanya untuk ekspor, sekitar 24 unit atau 82.860 GT.

Di era revolusi industri 4.0, industri galangan kapal dinilai strategis berperan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Kami telah mendorong industri komponen di dalam negeri agar menjadi supply chain untuk memproduksi kapal,” tutur Menperin.

Kementerian Perindustrian telah menginisiasi insentif usulan penurunan tarif bea masuk komponen kapal melalui skema khusus serta tax holiday yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai stimulus untuk meningkatkan kinerja industri galangan kapal nasional.

Begitu pula dari sisi finansial, pemerintah akan mengupayakan dan mendorong agar kegiatan usaha sektor industri galangan kapal dapat dukungan dari sektor perbankan atau pembiayaan sehingga kesempatan untuk melakukan ekspansi bisnis pembangunan kapal akan semakin terbuka lebar.

sumber: kontan 

Rabu, 11 Juli 2018

Resiko Rumah Tinggal Anda Rawan Kemalingan


Menjelang liburan kemarin, rekan-rekan saya banyak yang ‘pulang kampung’.  Tidak jarang ada rasa kuatir memikirkan keselamatan rumah yang ditinggalkan dalam kondisi kosong karena semua penghuni nya berlibur.

Kasus pencurian masih terus terjadi. Seperti apapun rumah kita, kewaspadaan harus ada.

Maka, ada baiknya jika kita memahami hal-hal yang membuat sebuah rumah rawan kemalingan? Ada 15 hal yang perlu perhatian yaitu :

1. Pintu rumah
Hampir setengah dari pelaku pencurian dan perampokan memilih jalur pintu utama karena aksesnya yang mudah.
Pencurian sering terjadi pada pukul 22.00 hingga 03.00

2. Tempat sampah
Barang elektronik adalah hal yang diperhatikan oleh pelaku kejahatan. Berhati-hatilah saat membuang kardus barang-barang tersebut karena kardus barang elektronik mewah yang dibuang memiliki arti bahwa barang-barang tersebut ada dalam rumahmu.

3. Jalan di sekitar rumah
Rumah yang berada di posisi tertentu cenderung lebih sulit untuk dimasuki penjahat.

Menurut Secure Life, trik untuk memberikan perlindungan ganda adalah buatlah rumahmu sesulit mungkin diakses. Misalnya dengan pagar yang tinggi dan banyak penerangan.

4. Kesehatan
Kesehatan si pemilik rumah juga menjadi perhatian pelaku perampokan. Data Biro Investigasi Federal (FBI), menyebutkan bahwa penjahat menyasar orang yang kurang bisa melawan.

5. Jendela rumah
Jendela depan rumah menjadi akses terbanyak kedua dari para pelaku kejahatan, setelah pintu depan.

6. Status sosial
Bersosialisasi lah dengan orang-orang yang tinggal di sekitarmu. Menurut Nationwide, tetangga yang berisik pun justru bisa menjadi sekutu terbaikmu dalam hal perlindungan rumah.

7. Foto liburan
Menurut Nationwide, 40 persen orang mengunggah foto liburannya ke media sosial atau menjadikan foto tersebut sebagai foto profil.

8. Sejarah kemalingan di perumahan
Beberapa kompleks perumahan lebih rentan dimasuki perampok atau tindak kriminal lainnya.

9. Usia perumahan
Pelaku kriminal cenderung mentargetkan kompleks perumahan baru. Hal itu mempertimbangkan para penghuni yang baru dan belum mengenal betul daerah huniannya.

10. Alarm rumah
Memiliki alarm keamanan di rumah bukan berarti membuat semua orang menggunakannya. Hanya 20 persen pemilik alarm keamanan yang mengaktifkan alarm di siang hari.

11. Kebun
Kebun adalah area yang sempurna bagi para pelaku kejahatan untuk bersembunyi. Pencuri seringkali menargetkan rumah yang rimbun dan memiliki banyak pohon rindang yang tumbuh di sisi rumah.

12. Kunci rumah
Waktu adalah faktor terpenting yang menentukan kesuksesan pencuri. Rata-rata maling menyelesaikan "misi"-nya tak sampai 10 menit.

13. Lampu luar rumah
Berdasarkan riset Nationwide, kegelapan adalah sahabat bagi para penjahat yang beraksi di malam hari.

14. Kotak surat
Kotak surat adalah hal lainnya yang perlu diperhatikan,
Surat yang tumpah dan berjatuhan dari kotak surat bisa mengindikasikan bahwa tidak ada orang di rumah.

15. Hewan peliharaan
Apakah kamu memelihara anjing di rumah? Jika ya, maka kamu cukup beruntung. Sebab, 50 persen pelaku kejahatan cenderung menghindari rumah yang memiliki anjing peliharaan.

sumber: kompas.com

Senin, 09 Juli 2018

Industri Otomotif Masih Menunggu Regulasi Mobil Listrik dari Pemerintah



Sebagai bentuk komitmen untuk menjadi bagian dari pengembangan industri otomotif nasional, Toyota Indonesia yang direpresentasikan oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT Toyota Astra Motor (TAM) bersama-sama dengan enam Universitas di Indonesia mengembangkan studi bersama.

Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono menjelaskan, dalam riset ini Toyota memberikan dukungan berbentuk penyediaan alat berupa kendaraan, data logger, charger, dan asistensi lainnya yang dapat dipergunaan oleh para peneliti dari universitas-universitas di Indonesia.

Kami berharap dukungan yang kami berikan ini dapat membantu pemetaan kondisi dan kebutuhan riil pelanggan, termasuk kesiapan dan tantangan dalam mengembangkan industri dan infrastruktur kendaraan elektrifikasi di Indonesia sesuai arahan Kementerian Perindustrian,” kata Warih, Rabu (4/7).

Sayangnya, investasi yang akan digelontorkan oleh Toyota belum dibeberkan. Yang jelas ada beberapa sektor yang dipelajari Toyota. Mulai dari preferensi konsumen, infrastruktur, rantai produksi kendaraan listrik serta regulasi pemerintah. "Kita akan memproduksi model-model yang nanti diharapkan konsumen di Indonesia," jelas Warih.

Sementara, Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor (TAM), Fransiscus Soerjopranoto menjelaskan, sisi perpajakan dapat mengubah harga jual kendaraan. Menurutnya saat ini kebijakan sangat bergantung pembicaraan Kementerian Keuangan (Kemkeu) dan Kementerian Perindustrian (Kemprin).

Apalagi saat ini kebijakan Pemerintah Indonesia yang masih menerapkan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) yang sama antara kendaraan non emisi dengan mobil emisi.

"Misalnya PPnBM itu tidak ada maka harga Prius itu berkurang. Saat ini harga kisaran Prius sekitar Rp 700 juta. PPnBM hilang bisa berkurang Rp 100 juta," kata Soerjopranoto, Selasa (4/7).

Sebelumnya, di awal tahun ini pemain otomotif asal Jepang lain yakni Mitsubishi Motors juga telah memberikan delapan unit Mitsubishi Outlander PHEV yang merupakan model SUV plug-in hybrid, dua unit kendaraan listrik i-MiEV dan empat unit quick charger kepada pemerintah Indonesia. 

Kendaraan-kendaraan ini dihibahkan untuk dilakukan studi bersama dengan Kemprin terkait pengembangan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia.

sumber: bisnis 

Minggu, 08 Juli 2018

Efek Kenaikan Bunga Belum Terasa ke Bisnis Asuransi

                                                                           ilustrasi

 Hasil investasi asuransi umum dalam lima bulan di tahun ini cenderung turun dari bulan sebelumnya. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai, hal ini wajar dan menjadi siklus asuransi umum setiap tahun.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hasil investasi asuransi umum Mei 2018 naik 0,19% menjadi Rp 1,64 triliun secara tahunan. Direktur Eksekutif AAUI Dody A.S. Dalimunthe bilang, pertumbuhan 0,19% di bawah rata-rata tahunan. "Di bulan Mei 2017 tumbuh sekitar 0,3%, sedangkan di Mei 2018 0,19%. Maka bisa dibilang pertumbuhan rendah karena siklus alami bukan karena kinerja investasi buruk," kata dia.

Meski suku bunga deposito naik, porsi investasi deposito industri asuransi umum justru menurun. Karena itu, efek kenaikan suku bunga acuan belum berdampak dan baru akan terasa beberapa bulan ke depan. Hasil investasi tersebut dipengaruhi penempatan dana di reksadana 21,41%.

Dody yakin, hasil investasi asuransi umum akan naik di semester II 2018. Ini seperti yang terjadi di tahun 2017. Pada saat itu, hasil investasi industri asuransi umum naik di November dan tumbuh 13,28%. Hingga Desember 2018, diperkirakan hasil investasi naik 10% dibandingkan tahun 2017 di angka 9,7%.

PT Asuransi Cakrawala Proteksi yakin, hasil investasi bakal tumbuh. Perusahaan ini mengandalkan investasi ke deposito 70%. Wakil Direktur Utama Cakrawala Proteksi Nicolaus Prawiro menilai, berinvestasi ke deposito lebih likuid, aman dan sesuai dengan tujuan investasi perusahaan. "Dana investasi kami sekarang Rp 300 miliar, dengan jumlah kecil membuat kami harus pilih-pilih investasi di mana," kata Nicolaus

PT Asuransi Wahana Tata juga optimistis pertumbuhan investasi signifikan. Presiden Direktur Asuransi Wahana Tata Christian Wanandi mengatakan, hingga Juni 2018, perusahaan ini mencatatkan pertumbuhan hasil investasi antara 5% sampai 10% secara tahunan. Pencapaian ini karena banyak disumbang dari hasil deposito dan obligasi.

sumber: kontan

Selasa, 03 Juli 2018

Asuransi Kendaraan Diramal Terus Melaju


Bisnis asuransi kendaraan mencatatkan pertumbuhan yang cukup menggembirakan di periode awal tahun ini. Tren ini dinilai berpotensi besar untuk terus terjaga.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe menilai kondisi pasar otomotif di tanah air masih akan jadi faktor terbesar dalam menopang bisnis asuransi kendaraan. Nah pasar ini pun dinilai masih punya prospek yang cukup baik.

Berkaca pada proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini, ia menilai permintaan akan kendaraan bermotor di pasaran bakal tetap bertumbuh. Salah satunya karena daya beli masyarakat akan tetap terkerek pertumbuhan ekonomi.

Kondisi dari pasar korporat pun dinilai punya peluang pertumbuhan yang positif. Seiring dari ekspansi yang dilakukan beberapa pelaku usaha dalam pengadaan kendaraan untuk berbagai kebutuhan.

Terlebih secara tradisi permintaan kendaraan pada periode tertentu biasanya menunjukkan permintaan. Misalnya saja untuk periode Lebaran kemarin, angka penjualan kendaraan biasanya akan meningkat cukup signifikan.

"Karena itu kami optimistis pertumbuhan lini bisnis asuransi kendaraan masih akan terjaga di angka dua digit," kata Dody belum lama ini.

AAUI sendiri mencatat, selama kuartal pertama tahun ini premi dari lini usaha asuransi kendaraan mencapai Rp 4,79 triliun. Jumlah ini meningkat 16,9% dari periode yang sama di tahun kemarin yang terparkir di angka Rp 4,1 triliun.

sumber: kontan

Senin, 02 Juli 2018

Loss Ratio Asuransi Kendaraan Menciut


Lini asuransi kendaraan berhasil membukukan pertumbuhan sebesar dua digit di kuartal pertama tahun ini. Kenaikan bisnis ini rupanya diimbangi juga dengan proses underwriting yang lebih baik.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, selama kuartal pertama 2018 premi asuransi kendaraan mencapai Rp 4,79 triliun. Angka ini naik 16,9% secara tahunan.

Di saat yang bersamaan, klaim yang dibayarkan hanya mencapai Rp 1,97 triliun atau naik 3,6% saja secara year on year.

Pertumbuhan klaim yang lebih rendah ketimbang premi ini, disebut Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe, menyebabkan rasio klaim dari lini bisnis tersebut praktis mengalami penurunan.

Di kuartal I 2017, loss ratio dari lini bisnis asuransi kendaraan masih berada di angka 48,1%. Sementara pada periode yang sama di tahun ini, rasio klaim tersebut berhasil di tekan ke angka 41% saja.

Penurunan ini sejalan dengan seleksi risiko yang terus ditingkatkan untuk menekan beban. "Pelaku usaha asuransi kerugian memang makin memperhatikan selektivitas dalam akseptasi bisnis untuk mendapatkan hasil underwriting yang lebih baik," kata dia belum lama ini.

sumber: kontan 

Minggu, 01 Juli 2018

Kemenhub Tingkatkan Industri Kapal di Sumatera Utara, Lima Buah Kapal Akan Dibangun



Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi akan terus meningkatkan perkembangan industri kapal di Sumatera Utara. Pada kunjungannya hari ini ke Portsea, Menhub menuturkan bahwa Kementerian Perhubungan akan membangun 5 Kapal Roro dan ada kapal yang dapat beroperasi pada bulan November 2018.

Tak Ada Lonjakan Klaim Asuransi Kendaraan Bermotor Setelah Lebaran


Sejumlah perusahaan asuransi kerugian memperkirakan klaim asuransi kendaraan bermotor tidak mengalami lonjakan setelah lebaran seiring dengan angka kecelakaan yang menurun.

Salah satu perusahaan yang memperkirakan klaim asuransi kendaraan bermotor tetap stabil setelah lebaran adalah PT Asuransi Cakrawala Proteksi Indonesia.

Deputy Direktur Klaim Purwoko memperkirakan, klaim asuransi kendaraan bermotor masih akan stabil pada bulan Juni yang bertepatan dengan libur lebaran pada 11 Juni -20 Juni 2018. Proyeksi ini karena melihat kasus klaim hingga Jumat (29/6/2018) masih sekitar 2.900 klaim.

Sementara itu, kasus klaim pada bulan sebelumnya atau Mei sekitar 2.922 klaim. Dia mengatakan perseroan hanya menerima klaim sebanyak 11 kasus di klaim center Jabodetabek selama libur lebaran.

"Kalau liat sepintas tidak ada kenaikan signifikan. Saya melihat malah hampir sama dengan bulan sebelumnya," katanya, Jumat (29/6/2018).

Menurutnya, kasus klaim yang stabil pada momen lebaran karena perseroan melakukan proses underwriting dengan baik yakni perseroan mengcover kendaraan dengan kondisi yang baik. Di samping faktor seleksi risiko, angka kasus klaim yang stabil juga diyakini karena kondisi infrastruktur yang baik.

Guna menjaga rasio klaim sepanjang tahun ini, pihaknya akan selalu berkoordinasi dengan bagian pemasaran dan underwriter mengenai teknis perolehan nasabah.

"Dari sisi risiko memang dari sisi underwritingnya harus diperhatikan. Faktor teknis lainnya, kondisi infrastruktur. Itu hanya salah satu faktor sehingga klaim stabil," imbuhnya.

Target Premi

Asuransi Cakrawala Proteksi menargetkan perolehan premi pada tahun ini mencapai Rp1,2 triliun atau meningkat 20% dari proyeksi tahun lalu sebesar Rp1 triliun. Hingga April 2018, perseroan mencatatkan pendapatan premi sebesar Rp548 miliar atau tumbuh 12,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Head Product Development PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) Tanny Megah Lestari menyampaikan, penerimaan klaim pada bulan Juni menurun 20% dibandingkan dengan bulan Mei dan April. Namun demikian, pelaporan klaim masih akan terlihat pada bulan Juli.

Berdasarkan pelaporan Autocillin Mobile Claim, sebuah aplikasi pelaporan klaim, ada 4.000 laporan per bulan.

"Selama lebaran, potensi klaim terbanyak adalah dari kendaraan bermotor," ujar Tanny, Kamis (28/6/2018).

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia kuartal I/2018 menunjukkan, klaim lini usaha asuransi kendaraan bermotor sebesar Rp1,97 triliun atau menurun 0,3% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,97 triliun.

Rasio klaim lini usaha kendaraan bermotor pada kuartal I/2018 tercatat 41% atau membaik dibandingkan dengan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 48,1%.

sumber: bisnis 

Kamis, 28 Juni 2018

Bisnis Asuransi Pengangkutan Diyakini Bisa Tumbuh Dua Digit


Lini bisnis asuransi pengangkutan menunjukan pertumbuhan di periode awal 2018. Tren positif ini diyakini bisa berlanjut di sisa tahun ini.

Hingga kuartal I-2018, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat premi yang diperoleh pebisnis asuransi kerugian dari lini usaha tersebut naik 13,5% secara year on year menjadi Rp 1,17 triliun.

Sementara, sampai penghujung tahun 2018 nanti, Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe memperkirakan prospek dari lini usaha ini masih terbilang cerah. "Kami optimistis pertumbuhan premi dari asuransi pengakutan bisa tetap berada di kisaran dua digit sepanjang tahun," katanya belum lama ini.

Salah satu faktor yang mendorong optimisme ini adalah proyeksi terhadap pertumbuhan ekonomi di dalam negeri yang tetap bakal tumbuh positif. Kondisi ini akan meningkatkan ekspansi industri maupun daya beli masyarakat.

Dus hal ini bakal mendorong kegiatan pengiriman barang baik antar pulau maupun untuk kegiatan ekspor. Tentunya lini bisnis asuransi pengakutan bakal berpeluang untuk ikut terkerek.

Hal lain yang juga jadi pengharapan industri adalah dari Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 48 Tahun 2018 yang didalamnya ikut mengatur kewajiban penggunaan asuransi dalam negeri untuk kegiatan ekspor barang tertentu. Seperti untuk pengangkutan batubara dan crude palm oil.

Bila tak ada aral melintang, kewajiban ini bakal belaku pada Agustus nanti. Sehingga menjadi ladang bisnis yang bisa dimaksimalkan pemain asuransi domestik.

Optimisme terhadap prospek asuransi pengakutan juga dimiliki PT Asuransi Sinar Mas (ASM). 

Direktur ASM Dumasi MM Samosir menyebut selama beberapa tahun ke belakang, lini bisnis ini menunjukan tren yang cukup menggembirakan.

Di tahun lalu misalnya, lini bisnis ini melompat 52% menjadi Rp 459 miliar. Dengan sejumlah sentimen positif di atas, ia yakin bisnis asuransi pengangkutan perseroan bisa kembali tumbuh dua digit di tahun ini.

sumber: kontan 

Rabu, 27 Juni 2018

Selain Premi, Rasio Klaim Asuransi Pengangkutan Juga Membaik


Bisnis asuransi pengangkutan menunjukkan kinerja yang positif di awal tahun ini. Meski bisnis tumbuh, rupanya pelaku usaha tak lupa untuk meningkatkan selektivitas dalam memilih bisnis untuk menekan risiko.

Pasalnya, hingga triwulan pertama tahun ini, rasio klaim dari lini usaha ini menunjukan penurunan. Yakni dari 21,2% di tiga bulan pertama tahun 2017 menjadi 19,3% di kuartal I tahun ini.

Di kuartal I 2018, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe menyebut, jumlah klaim yang dibayar pelaku usaha pada lini usaha asuransi pengangkutan memang menunjukan peningkatan. Namun, kenaikannya berada jauh di bawah pertumbuhan premi yang didapat.

Per kuartal pertama tahun ini, premi yang diperoleh pebisnis asuransi kerugian dari lini usaha tersebut mengalami kenaikan setinggi 13,5% secara year on year menjadi Rp 1,17 triliun.

Di saat yang bersamaan, pertumbuhan nilai klaim yang dibayarkan hanya mencapai 2% saja, yakni Rp 219 miliar di tiga bulan pertama tahun lalu menjadi Rp 226 miliar di periode Januari sampai Maret 2018.

"Kenaikan jumlah klaim ini wajar karena sejalan dengan pertumbuhan portofolio bisnis yang didapat," kata dia belum lama ini.

Di sisi yang lain, dia menilai industri terus melakukan bersih-bersih underwriting untuk menekan loss ratio. Termasuk yang dilakukan di lini usaha asuransi pengakutan. Tujuannya agar menekan rasio klaim demi mendapat hasil underwriting yang lebih baik.

sumber: kontan 

Senin, 25 Juni 2018

Premi Suretyship Tumbuh di Kuartal II


Premi lini bisnis asuransi umum suretyship loyo sampai kuartal I tahun ini. Kendati begitu, produk tersebut diprediksi mulai bergairah di kuartal II hingga akhir tahun ini.

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sampai Maret 2018 menunjukkan, premi suretyship Rp 331,37 miliar, menurun 8,8% dibanding Maret 2017 sebesar Rp 363,26 miliar.

Direktur Eksekutif Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengakui, bisnis suretyship belum bergairah karena belum banyak proyek yang tersedia. Ini tentu berdampak ke bisnis suretyship.

Meski begitu, memasuki pertengahan tahun ini, AAUI yakin bisnis ini kembali terangkat dengan potensi bisnis cukup luas. "Biasanya anggaran turun di pertengahan tahun sampai akhir tahun sehingga mengerek bisnis ini," kata Dody, Rabu (20/6).

AAUI memprediksikan, pertumbuhan asuransi umum di 2018 konservatif yakni 10%. Dengan demikian semua lini bisnis asuransi termasuk produk suretyship diproyeksi tumbuh minimal 10%.

Pertumbuhan positif tersebut diyakini Asuransi Wahana Tata (Aswata). Hingga akhir 2018, Aswata membidik pertumbuhan 5% dari produk suretyship. Menurut Direktur Utama Aswata Christian Wanandi, saat ini produk tersebut berkontribusi 2%.

PT Asuransi Cakrawala Proteksi Indonesia pun menilai prospek suretyship masih positif. Menurut Komisaris PT Asuransi Cakrawala Proteksi Indonesia Dobias Iskandar, keberadaan produk suretyship berdampak baik bagi perusahaan maupun secara industri. Meski memang sampai saat ini, kontribusi produk surety Cakrawala Proteksi masih sangat mini yakni di bawah 1% dari total premi.

Dengan begitu, perusahaan ini bisa menjual beragam produk asuransi kepada klien dengan memberikan layanan one stop shopping. "Seharusnya memang asuransi tetap dikasih kesempatan untuk memasarkan produk asuransi surety ini," kata Dobias kepada KONTAN.

Sebelumnya, asuransi sempat dikabarkan tidak lagi dapat menjual suretyship karena terhambat oleh Undang-Undang (UU) Nomor 1 tahun 2016 tentang penjaminan.

Menurut Dody, kabar tersebut muncul karena adanya kesalahan penafsiran UU itu. Menurut dia, asuransi umum masih bisa memasarkan produk suretybond, seperti perusahaan penjaminan. Ini diatur di UU Perasuransian.

sumber: kontan

Makin Selektif, Rasio Klaim Asuransi Properti Turun


Sejumlah tantangan menghadap lini bisnis asuransi properti tahun ini. Dalam situasi ini, pelaku industri disebut lebih memilih melakukan bersih-bersih underwriting.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, di sepanjang 2017 premi yang didapat pemain asuransi umum dari lini usaha asuransi properti mengalami penurunan sebesar 5% menjadi Rp 18,2 triliun. Di kuartal I-2018, tren ini terus berlanjut dengan mencatatkan penurunan sebesar 10,1% menjadi Rp 3,69 triliun.

Namun untungnya, menurut Direktur Ekseutif AAUI, tren penurunan premi ini dibarengi oleh membaiknya kondisi loss ratio dari lini usaha tersebut. "Dalam dua kuartal terakhir, rasio klaim asuransi properti berhasil ditekan," kata dia belum lama ini.

Per akhir 2016, loss ratio dari lini asuransi tersebut masih bertengger di angka 33,7%. Dengan seleksi bisnis yang dilakukan, rasio tersebut menyusut menjadi 32,7% per kuartal keempat tahun lalu.

Nah per tiga bulan pertama tahun ini, loss ratio asuransi properti kembali menciut. Bahkan cukup signifikan yakni menjadi 28% saja.

Penurunan ini didorong makin selektifnya pemain asuransi umum dalam menerima bisnis asuransi properti. Bahkan pemain asuransi umum memilih tak memperpanjang pertanggungan dengan sejumlah akun yang punya rasio klaim cukup besar.

sumber: kontan

Jumat, 22 Juni 2018

Asuransi Umum Sambut Senang Tetap Boleh Menjual Produk surety Bond


Pelaku asuransi umum masih dapat memasarkan produk asuransi suretyship atau penjaminan proyek setelah tahun 2019 nanti. Pelaku industri pun menyambut positif mengenai hal ini.

Komisaris PT Asuransi Cakrawala Proteksi Indonesia Dobias Iskandar mengatakan, hal ini berdampak baik bagi perusahaan maupun secara industri. Dengan begitu, perusahaan bisa menjual beragam produk asuransi kepada klien dengan memberikan layanan one stop shopping.

"Seharusnya memang asuransi tetap dikasih kesempatan untuk memasarkan produk asuransi surety ini," kata Dobias kepada Kontan.co.id, Rabu (20/6).

Adapun sampai saat ini porsi produk suretybond Cakrawala Proteksi masih sangat mini yakni di bawah 1% dari total premi.

Senada, Direktur Utama Asuransi Wahana Tata (Aswata) Christian Wanandi mengatakan, dengan masih ditetapkannya pelaku asuransi umum menjalankan bisnis suretyship berimbas positif baik untuk perusahaan maupun industri.

Ia pun yakin produk tersebut bisa bertumbuh di tahun ini sekitar 5% dibanding tahun lalu. Meskipun secara porsi dari jumlah premi masih terbilang kecil yakni sebesar 2%.

sumber: Kontan 


Rabu, 20 Juni 2018

Masih Lesu, Asuransi Umum Tetap Optimis Produk Suretyship Tumbuh 10% Tahun Ini


Salah satu lini bisnis asuransi umum yakni suretyship masih mengalami kelesuan sampai kuartal pertama tahun ini. Kendati begitu, produk tersebut diprediksi akan mulai bergairah di kuartal kedua sampai akhir tahun ini.

Merujuk data AAUI, sampai Maret 2018, premi suretyship mencapai Rp 331,37 miliar. Angka tersebut menurun 8,8% dibanding Maret 2017 sebesar Rp 363,26 miliar.

Direktur Eksekutif Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengakui, bisnis suretyship masih belum bergairah di periode pertama tahun ini sebab belum banyaknya proyek-proyek yang tersedia sehingga hal ini turut berdampak ke bisnis asuransi.

Meski begitu, memasuki pertengahan tahun ini, AAUI yakin bisnis ini kembali terangkat dengan potensi yang masih cukup luas. "Biasanya anggaran turun di pertengahan tahun sampai akhir tahun sehingga mengerek bisnis ini," kata Dody kepada Kontan.co.id, Rabu (20/6).

AAUI memprediksi pertumbuhan asuransi umum di tahun 2018 konservatif sebesar 10%. Dengan demikian, semua lini bisnis asuransi termasuk produk suretyship diproyeksi tumbuh minimal 10%.

Pertumbuhan positif tersebut juga diyakini oleh Asuransi Wahana Tata (Aswata). Hingga akhir tahun ini, Aswata membidik pertumbuhan 5% dari produk suretyship.

Kendati memang, menurut Direktur Utama Aswata Christian Wanandi, saat ini produk tersebut masih berkontribusi mini terhadap premi perusahaan sekitar 2%.

sumber: kontan 



Senin, 11 Juni 2018

Asuransi Kendaraan Tterdongkrak Pertumbuhan Ekonomi dan Komoditas


 Industri asuransi umum diramal bisa menorehkan kinerja yang lebih baik di tahun 2018. Lini bisnis asuransi kendaraan pun menjadi salah satu tumpuan.

Apalagi, lini bisnis asuransi kendaraan memang selalu menjadi salah satu andalan dari pelaku usaha asuransi umum. Bahkan, bisnis ini menyumbang kontribusi hampir setara dengan asuransi properti.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe menyatakan, lini bisnis asuransi kendaraan sempat menyusut pada medio 2017, meski kemudian membaik.

Dody menilai, bisnis asuransi kendaraan tahun ini melaju lebih baik. "Diantaranya karena potensi perbaikan daya beli masyarakat, termasuk di daerah," kata Dody belum lama ini.

Harapan perbaikan daya beli masyarakat muncul diantaranya karena optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi makro yang ditargetkan pemerintah sebesar 5,4%. Di samping itu, dampak tren kenaikan harga komoditas dan pembangunan infrastruktur juga turut mendorong permintaan otomotif.

Dari asumsi tersebut, Dody optimistis pertumbuhan premi bisnis asuransi kendaraan tahun ini tumbuh dua digit.
Direktur Utama Aswata Christian Wanandi berharap, Aswata bisa mencetak pertumbuhan premi asuransi kendaraan sama seperti tahun 2017, yakni sebesar 15%. "Tahun ini mungkin masih bisa tumbuh di kisaran yang sama," tandas Christian.

Untuk mendongkrak bisnis tersebut, Aswata akan menguatkan saluran distribusi. Diantaranya dengan menggandeng lebih banyak lagi mitra, seperti dari kalangan multifinance.
Adapun Direktur PT Asuransi Sinar Mas (ASM), Dumasi MM Samosir menyatakan, premi asuransi kendaraan menyumbang 26% dari total premi perusahaannya tahun 2017 yang berjumlah Rp 5,7 triliun.

Secara umum, Dumasi mematok pertumbuhan premi asuransi tahun ini di kisaran 9%. ASM, akan memaksimalkan saluran agensi, khususnya dengan multifinance yang selama ini menjadi kontributor utama.

sumber: kontan

Senin, 04 Juni 2018

Porsi Asing Dibatasi, Industri Asuransi Indonesia Tetap Menarik di Mata Investor


Kehadiran aturan main soal batas kepemilikan saham asing di industri asuransi dinilai tak akan membuat investor dari luar negeri menghindari potensi bisnis di Indonesia. Pasalnya, peluang yang ada di Indonesia justru dinilai besar.

Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Dadang Sukresna bilang sektor industri asuransi punya potensi untuk terus tumbuh positif dalam tahun-tahun mendatang. Makanya hal ini bisa jadi pertimbangan bagi investor asing untuk ikut mencicipi.

Tak cuma bagi pemodal asing, Dadang bilang peluang ini pun sebenarnya bisa jadi pendorong bagi investor domestik untuk lebih banyak bermain di sektor industri ini.

Salah satu dasar optimismenya adalah perkembangan ekonomi secara makro yang dinilai akan terus tumbuh postif. Termasuk dari langkah-langkah yang dilakukan pemerintah guna menstimulus pertumbuhan asuransi.

Sekadar informasi, pemerintah menetapkan angka 80% sebagai batas minimal bagi investor asing dalam porsi kepemilikan saham di perusahaan perasuransian dalam Peraturan Pemerintah nomor 14 tahun 2018.

Di sisi lain, penetrasi asuransi di dalam negeri juga masih terbilang mini. Baik di sektor asuransi umum ataupun asuransi jiwa. "Hal ini mengindikasikan pasar yang masih bisa tumbuh di masa depan," kata dia, Selasa (22/5).

Bagi investor, Dadang menambahkan pergerakan return on equity (RoE) di industri asuransi umum bergerak stabil dalam beberapa tahun ke belakang. Yakni sebesar 13,6% di tahun 2013, lalu 14% di tahun berikutnya.

Meski bisnis asuransi umum beberapa taun ke belakang cukup menantang, namun dia bilang rasio RoE di industri ini masih terjaga di angka 13,8% pada 2015 dan 12,8% di 2016.

Sementara itu, laju bisnis asuransi jiwa dalam lima tahun terakhir pun disebutnya terus meningkat. Dari 2013 sampai 2017, premi bisnis baru yang didapat pelaku usaha sektor ini rata-rata tumbuh 17,2%. Sedangkan untuk premi lanjutan sebesar 12,7%.

sumber: kontan

Minggu, 03 Juni 2018

Kinerja Emiten Alat Berat Bakal Positif Pada 2018


Harga batubara yang stabil dan masih cenderung naik menjadi angin segar bagi kinerja emiten di sektor alat berat. Maklum, seiring membaiknya bisnis pertambangan, permintaan alat berat juga ikut naik.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Juan Oktavianus Harahap mengatakan, bangkitnya sektor pertambangan, khususnya batubara, mendorong kinerja perusahaan alat berat. Sebab, langkah ekspansif perusahaan pertambangan membutuhkan dukungan perusahaan alat berat.

Sektor alat berat juga didukung skema kontrak yang cenderung tahunan, bisa tiga tahun atau lima tahun. Jadi, meski harga batubara turun atau stagnan di tahun depan, perusahaan alat berat sudah mengantongi nilai kontrak penjualan yang cukup tinggi.

Emiten yang dianggap Juan bakal moncer adalah PT United Tractors Tbk (UNTR). Dengan penjualan Komatsu, yang dipandang sebagai merek andalan di segmen ini, UNTR bisa mencicipi manisnya kenaikan harga batubara.

Hal tersebut sudah terlihat dalam laporan keuangan UNTR di kuartal I-2018. Anak usaha Grup Astra ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 2,5 triliun. Angka ini naik sekitar 69% dari periode yang sama tahun lalu. Perusahaan ini juga berhasil meningkatkan volume penjualan alat berat Komatsu hingga 38% menjadi 1.171 unit.

Selain UNTR, ada pula PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) yang tak hanya menjual alat berat, melainkan juga menjual suku cadang. Kinerja HEXA juga dipandang Juan bakal naik signifikan pada kuartal II-2018 ini.

Senada dengan Juan, Kepala Riset Ekuator Swarna Sekuritas David Nathanael Sutyanto menuturkan, kinerja sektor alat berat masih bagus, terdorong kenaikan prospek bisnis tambang. Bisnis alat berat masih positif tahun ini.

Apalagi selama setahun terakhir, sektor batubara sudah menunjukkan geliat untuk melakukan ekspansi. "Nah, sekarang ini saya kira ekspansi akan berjalan dan ini akan mendorong sektor alat berat," ujar David.

Menurut dia, saham sektor alat berat seperti UNTR maupun HEXA masih layak dikoleksi. David optimistis saham UNTR bisa melaju kencang. Oleh karena itu ia merekomendasikan beli dengan target harga Rp 41.000.

sumber: kontan

Kamis, 17 Mei 2018

Prospek Cerah, Perusahaan Asuransi Umum Genjot Segmen Ritel


Pasar asuransi umum yang menyasar segmen ritel diprediksi terus tumbuh karena didorong oleh peningkatan daya beli masyarakat. Sejumlah perusahaan yang awalnya fokus di segmen korporat pun kini mulai melirik pasar ini.

Dody A.S. Dalimunthe Executive Director Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan segmen ritel akan berkontribusi besar terhadap kinerja asuransi umum tahun ini. Apalagi, perusahaan makin gencar meluncurkan produk asuransi yang menyasar pasar ritel.

“Yang pasti dengan semakin banyaknya produk-produk asuransi ke ritel yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan asuransi umum, maka akan meningkatkan pertumbuhan segmen ritel. Hal tersebut sangat memungkinkan didukung dengan maraknya pemasaran melalu jaringan digital dan teknologi finansial,” kata Dody kepada Kontan.co.id, Selasa (15/5).

Menurutnya, segmen ritel mempunyai sejumlah kelebihan ketimbang korporat atau perusahaan. Pertama, nilai pertanggungan ritel relatif kecil, sehingga dalam pencatatan hasil underwriting akan lebih menguntungkan.

Kemudian, segmen ritel sendiri, lebih banyak memanfaatkan kapasitas retensi. Retensi adalah risiko yang ditanggung sendiri oleh perusahaan asuransi dan tidak dilimpahkan kepada perusahaan reasuransi atau perusahaan asuransi lain.

Menurutnya, dengan skema retensi tersebut bisa memangkas trasaksi reasuransi ke luar negeri dan ini menguntungkan transaksi keuangan nasional. Karena dengan ini bisa menekan larinya premi ke luar negeri dan untuk mendukung reasuransi dalam negeri.

Sayangnya, asuransi di pasar ritel di Indonesia masih menghadapi kendala, di antaranya, belum ada kewajiban kepemilikan asuransi untuk kendaraan bermotor dan properti. Padahal, kedua lini bisnis ini berkontribusi besar bagi pendapatan premi asuransi umum di Indonesia.

Hal ini perparah, oleh kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengikuti asuransi juga masih rendah. Di beberapa negara lain bahkan telah mewajibkan adanya asuransi kebakaran dan asuransi kendaraan.

“Di negara lain ada asuransi kebakaran saat akan membangun rumah dan juga asuransi kendaraan bermotor saat membeli kendaraan,” pungkasnya.

Merujuk data AAUI hingga akhir 2017, tercatat bahwa segmen ritel hanya berkontribusi 20% dari total pendapatan premi asuransi umum di Indonesia. Asuransi umum sendiri, mempunyai lini bisnis seperti asuransi properti, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan diri, asuransi kesehatan, asuransi aneka dan lainnya.



sumber: kontan 

Senin, 14 Mei 2018

Pemasaran Asuransi Terorisme & Sabotase Stagnan


Pemasaran asuransi terorisme dan sabotase dinilai stagnan dalam dua tahun terakhir.

Rismauli Silaban, Chief Underwriting Officer PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance), mengatakan pemasaran produk tersebut melalui perusahaannya masih terbilang masih sangat kecil. Bahkan, pemasaran produk itu tidak mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir.

"Permintaan produk terorisme dan sabotase dalam dua tahun terakhir tidak mengalami pertumbuhan," ungkapnya kepada Bisnis, Senin (14/5/2018) malam.

Menurut Rismauli, sejumlah kalangan memang belum merasa membutuhkan produk tersebut. Sebagian lainnya, terkendala dengan biaya sehingga belum memanfaatkan proteksi dari produk itu.

Namun, dia mengakui ada potensi pemasaran produk itu juga dihadapkan pada minimnya pengetahuan masyarakat tentang hadirnya jenis proteksi tersebut.

"Mungkin ada juga yang kurang tahu bahwa ada asuransi untuk terorisme dan sabotase," terang Rismauli.

Terpisah, Ketua Dewan Pengurus Konsorsium Pengembangan Industri Asuransi Indonesia Terorisme-Sabotase (KPIAI-TS) Robby Loho menyatakan realisasi premi dari produk itu secara umum terus mengalami penurunan. Pada tahun lalu, konsorsium hanya meraup premi sekitar Rp6 miliar.

“Pada 2017, realisasi premi konsorsium turun sedikit, paling 10%,” sebutnya.

Kendati begitu, Roby menjelaskan rasio klaim produk ini pun nihil. Kondisi ini juga menyebabkan pemasaran produk tersebut mengalami penurunan.

sumber: bisnis 

Rabu, 25 April 2018

Kuartal I, Asuransi Umum Tumbuh 10%


Industri asuransi umum bakal mulai bergairah pada kinerja awal tahun 2018. Ini angin segar untuk industri asuransi setelah sempat mencetak perlambatan kinerja sepanjang tahun lalu.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memproyeksikan, industri asuransi umum akan tumbuh sekitar 10% di kuartal pertama. Direktur Eksekutif AAUI Doddy Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, lini asuransi properti dan kendaraan bermotor masih akan menyumbang kontribusi terbesar dalam mendongkrak pertumbuhan premi asuransi umum.

Kedua lini bisnis ini didukung oleh peningkatan konsumsi masyarakat di awal tahun ini. Misalnya, penjualan properti residensial tetap tinggi dengan banyaknya pemukiman dan apartemen baru.

"Harapan kami di kuartal I-2018 ini bisa tumbuh 10%, Karena estimasi hingga akhir tahun ini adalah naik 10%," kata Doddy kepada KONTAN, Jumat (21/4). Di kuartal kedua tahun ini, AAUI optimistis bisnis asuransi umum akan tumbuh positif.

Kalangan industri mengiyakan proyeksi tersebut. Salah satunya, PT Asuransi Cakrawala Proteksi Indonesia telah membukukan premi senilai Rp 493 miliar di kuartal I-2018. Vice President Director Cakrawala Proteksi Nicolaus Prawiro mengatakan, jumlah itu naik hampir 10% secara year on year (yoy) dari posisi sebelumnya Rp 450 miliar.

"Cabang-cabang kami sudah membuahkan hasil dan kami juga dapat tambahan beberapa akun baru," terangnya. Cakrawala Proteksi membidik akan meraih premi senilai Rp 1,2 triliun di akhir tahun ini. Angka ini naik sekitar 20% dari pencapaian Rp 1,01 triliun di akhir tahun lalu. Adapun, dalam tempo tiga bulan, Cakrawala Proteksi sudah merealisasikan 41,08% dari target tahunan.

Sementara itu, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sudah membukukan premi mendekati Rp 1 triliun di kuartal I-2018. Direktur Operasi Ritel Jasindo Sahata L. Tobing menyampaikan, pencapaian yang maksimal tersebut masih ditopang oleh lini bisnis yang memiliki kontribusi besar.

Sebut saja, kinerja asuransi properti dan kendaraan bermotor bertumbuh baik, begitu pula dengan bisnis asuransi aneka dan marine cargo yang turut mencetak kinerja apik. Namun, Sahata tidak membeberkan secara perinci mengenai pertumbuhan tersebut. "Pertumbuhan premi secara year on year (yoy) cukup oke, naik sekitar 8%," ujarnya.

Pada kuartal kedua, Sahata yakin untuk bisa menggapai target karena ekonomi mulai membaik. Hingga akhir tahun 2018, Jasindo membidik perolehan premi senilai Rp 5,8 triliun. Adapun dalam tempo tiga bulan, Jasindo sudah memenuhi sekitar 17,24% dari target perolehan premi di tahun ini.

sumber: kontan

Kamis, 19 April 2018

Hadapi Pasar Asean, Asuransi Umum Harus Miliki Kemampuan Menetapkan Tarif


Perusahaan asuransi kerugian dinilai perlu meningkatkan kemampuan dalam menentukan tarif premi dengan tepat agar dapat bersaing dalam era pasar terbuka pada 2020.

Direktur Utama PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re Frans Y. Sahusilawane menjelaskan saat ini industri asuransi umum masih mengandalkan batas tarif premi yang ditetapkan oleh regulator. Batas tarif itu ditetapkan melalui data perkembangan industri yang dihimpun regulator dan juga oleh Badan Pengelola Pusat Data Asuransi Nasional (BPPDAN) sejak 1993.

Namun, dia menilai pada 2020, ketika Masyarakat Ekonomi Asean akan diberlakukan untuk pasar asuransi, tidak aka nada lagi patokan tariff di pasar, sebab pelaku dari luar negeri dapat menyerap pasar di dalam negeri.

“Ketika itu, asuransi harus punya kemampuan atau wisdom menentukan pricing. Kalau tidak [asuransi] out,” ungkapnya dikutip Bisnis.com, Kamis (19/4/2018).

Oleh karena itu, Frans mengatakan BPPDAN, yang berada di bawah Indonesia Re, akan terus mendorong kesadaran perusahaan asuransi sehingga mampu mempersiapkan diri. Kemampuan dalam menentukan tarif itu, jelasnya, hanya bisa dicapai bila asuransi memiliki data komprehensif mengenai perkembangan industri.

Data itu, jelasnya, lebih lanjut harus dapat diterjemahkan oleh asuransi untuk melihat kecenderungan pasar dan kemudian menentukan rencana kerja.

“2020 nanti kita mesti terbuka sehingga bukan lagi bersaing antar sesame asuransi dalam negeri, tetapi dengan pelaku luar. Bila tidak mampu, asuransi out, dengan begitu reasuransi juga out.”

Frans mengingatkan bila tidak berbenah, nantinya pelaku asuransi dalam negeri hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri saat memasuki era pasar terbuka.

Saat ini, jelasnya, BPPDAN terus mengelola data dan memberikan laporannya kepada industri secara berkala. Ke depan, setiap perusahaan asuransi diharapkan dapat mengembangkan data secara mandiri.

“Itu lah kenapa kami mendorong pengembangan kapabilitas dalam memanfaatkan data base untuk kepentingan nasional.”

sumber: bisnis 


Rabu, 18 April 2018

Tahun Lalu Bisnis Asuransi Energi Susut 10%



Lini bisnis asuransi energi di tahun 2017 lesu. Dibanding tahun 2016, premi yang didapat pelaku usaha dari lini bisnis ini mengalami penurunan.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, sepanjang tahun 2017, premi yang didapat perusahaan asuransi umum di lini bisnis ini sebesar Rp 1,63 triliun. Jumlah ini lebih rendah 10,4% dari realisasi di tahun sebelumnya.

Menurut Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe, perkembangan lini bisnis ini dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya adalah pergerakan harga sejumlah komoditas energi global, seperti minyak.

Nah dalam beberapa tahun ke belakang, harga minyak global dinilai masih berada dalam posisi yang cukup rendah. Hal ini berdampak pada minimnya ekspansi dan eksplorasi yang dilakukan oleh pengusaha migas.

"Sehingga premi yang didapat pun tidak banyak," katanya belum lama ini.

Dody menilai, tren turunnya bisnis dari lini usaha asuransi energi memang merupakan hal yang lumrah terjadi. Terlebih, pergerakan harga minyak merupakan faktor eksternal yang tak bisa dihindari oleh pelaku usaha asuransi.

Karena itu, ia menilai lini bisnis ini menjadi salah satu dari sejumlah usaha yang risikonya bakal makin disaring secara efektif oleh para pelaku usaha.

sumber: Kontan

Senin, 16 April 2018

Terminal Kijing Pelabuhan Pontianak Ditargetkan Beroperasi 2019


PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC menargetkan pembangunan tahap pertama Terminal Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat, selesai dan beroperasi mulai kuartal ketiga 2019. 

Terminal baru pendukung Pelabuhan Pontianak itu akan terus dikembangkan secara bertahap hingga 100 tahun ke depan menjadi pelabuhan berkelas internasional terbesar di Kalimantan. 

Pencanangan pembangunan proyek yang berlokasi di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalbar, ini dilakukan pada Rabu (11/4/2018). 

Acara dihadiri oleh Direktur Utama IPC, Elvyn G Masassya, Komisaris Utama IPC Tumpak H Panggabean, jajaran komisaris dan direksi, serta pajabat daerah di Kalbar. 

Dalam kata sambutannya, Elvyn mengungkapkan Terminal Kijing akan mampu melayani kapal-kapal besar karrena memiliki draft -15mLWs aehingga memaksimalkan potensi sumber daya alam Kalimantan, khususnya Kalbar.

“Sebagai salah satu proyek strategis nasional, Terminal Kijing  akan memperkuat konektivitas antarpulau, sekaligus mendekatkan cita-cita Indonesia menjadi poros maritim dunia,” katanya. 

Elvyn juga optimistis Terminal Kijing akan mendorong pertumbuhan arus barang, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi serta pengembangan industri perkebunan dan pertambangan di Kalimantan. 

"Terminal Kijing akan dikembangkan sebagai pelabuhan laut dalam yang mampu mengakomodir potensi hinterland dan kapal berukuran besar," ujarnya.

Pada pembangunan tahap pertama, IPC akan membangun empat terminal, yakni terminal multipurpose, terminal curah cair, terminal peti kemas, dan terminal curah kering. 

Kapasitas terminal peti kemas diproyeksi mencapai 1 juta TEUs, sedangkan untuk curah cair dan curah kering masing-masing 8,3 juta ton dan 15 juta ton, serta untuk kapasitas terminal multipurpose, pada tahap pertama diproyeksikan mencapai 500.000 ton per tahun. 

Selain itu, akan dibangun lapangan penumpukan, gudang, tank farm, silo, jalan, lapangan parkir, kantor pelabuhan, kantor instansi, jembatan timbang, serta fasilitas penunjang lainnya. 

Luas dermaga yang dibangun pada tahap awal ini yaitu 15 hektar untuk dermaga curah kering, 7 hektar untuk dermaga multipurpose, 9,4 hektar untuk dermaga petikemas, dan 16,5 hektar untuk dermaga curah cair. 

Terintegrasi KEK

Nantinya, menurut Elvyn, pengembangan Terminal Kijing akan terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), sehingga dapat menjadi pusat industri pengolahan bahan baku baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. 

“Hal ini diharapkan mempercepat pertumbuhan ekonomi, khususnya di Kalimantan Barat,” jelasnya. 

Elvyn mengatakan, saat ini proses pembebasan lahan akan memasuki penyelesaian tahap dua, yang di dalamnya juga terdapat beberapa asset pemerintah yang siap direlokasi. 

Pada tahap konstruksi atau tahap awal, pembangunan proyek ini akan menyerap banyak tenaga kerja. Selanjutnya, jika sudah beroperasi, Terminal Kijing akan dapat menyerap lebih banyak lagi pekerja. 

Dalam kesempatan itu, Elvyn memaparkan pencapaian IPC tahun 2017, di mana perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar 10,9 triliun rupiah, yang merupakan pendapatan tertinggi selama 25 tahun usia perseroan.

Tahun 2017 juga menjadi tonggak penting dalam sejarah kepelabuhanan di Indonesia, karena untuk pertama kalinya setelah 160 tahun beroperasi, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dapat melayani kapal container berkapasitas 10.000 TEUs. 

“Ini adalah kapal terbesar yang pernah berlabuh di Indonesia. Kapal besar ini melayani rute direct call Java-America Express (JAX), yang berlayar rutin setiap minggu dari Tanjung Priok ke Los Angeles & Oakland, Amerika Serikat,” jelas Elvyn.

Di sela-sela acara tersebut, IPC menyerahkan dana beasiswa untuk pelajar SD di sekitar lokasi proyek Terminal Kijing, serta bantuan sembako untuk warga sekitar. 

sumber: translogtoday

Selasa, 03 April 2018

Muatan Kapal Indonesia Yang Dinikmati Pelayaran Asing


Masih belum dicabutnya moratorium nomor 183/X/DN-16 tanggal 28 Oktober 2016 tentang pelarangan kapal dibawah 500 GT berlayar lewat laut Sulu (Filipina) oleh pemerintah Indonesia, membuat pelayaran Indonesia seperti mati suri berkepanjangan. Keadaan ini sangat dinikmati perusahaan pelayaran asing di negara yang memiliki ratusan juta ton ekspor batubara ini.

Mandeknya pelayaran semakin lengkap dengan ditundanya pemberlakuan Permendag nomor 82 tahun 2017 untuk memberikan waktu kepada pemerintah Indonesia mempersiapkan armada kapal kapal pengangkut komoditas batubara dan minyak sawit keluar negeri.

Jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya masih tersisa harapan untuk mengamankan sebagian uang freight batubara yang bisa diekspor menggunakan kapal kapal berbendera Indonesia ke negara tetangga terdekat dari pusat industri batubara tersebut.

Seperti diketahui bersama,  industri batubara yang besar hanya terpusat di 3 provinsi Indonesia yaitu Kalimantan Selatan,  Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan.

Jika diukur, jarak dari Samarinda ibukota Kalimantan Timur ke Filipina Selatan berkisar 560 nautical mil, atau kurang lebih sama dengan jarak dari Samarinda ke Surabaya. Dahulu rute ini sering ditempuh rombongan tongkang batubara ke Filipina, sampai akhirnya para perompak di laut Sulu melumpuhkan kegiatan tersebut.

Semenjak maraknya pembajakan kapal di laut Sulu Filipina, pemerintah dengan moratorium Kemenhub (revisi) nomor 183/X/DN-16 tanggal 28 Oktober masih melarang kapal-kapal dibawah 500 GT melakukan pelayaran ke Filipina. Artinya kapal tug boat yang menggandeng tongkang, dilarang berlayar menuju Filipina lewat laut Sulu.

Apabila dilihat dari jenis kapal pengangkut batubara, maka dunia pelayaran hanya menggunakan 2 jenis kapal untuk mengangkut muatan curah tersebut. Yang pertama adalah bulker ukuran 40.000 ton (Handy max) keatas, dan kedua adalah tongkang dengan kapasitas sekitar 8.000 ton. Tidak ada kapal jenis lain yang ekonomis apabila dipakai mengangkut muatan jenis tersebut.

Dengan masih dilarangnya tongkang berlayar ke Filipina (satu-satunya negara luar yang ekonomis dan aman dari aspek inland water nya) maka praktis hampir tidak ada ekspor batubara menggunakan armada nasional, kecuali kapal bulker yang masih sedikit jumlahnya di Indonesia. 

Tidak heran apabila melihat area Ship to Ship di Muara Mahakam dan Barito tempat memuat batubara dari tongkang tongkang ke mother vessel/ bulker, ibarat melihat anchorage di luar negeri. Karena 97 persen bulker yang ada disana adalah kapal bendera asing, sementara rejeki dari uang freight buat kapal bendera Indonesia masih sebatas transhipment dari dalam sungai ke muara nya saja.

Apabila di ekspor batubara ukuran kapal besar kita menyerah karena dianggap belum siap, maka di ekspor batubara menggunakan tongkang kita menyerah di tangan perompak.

Adakah solusi yang bisa dijadikan jalan keluar, agar kita tidak terus menyerah dengan keadaan dan menunjukkan jatidiri sebagai bangsa yang tangguh?

Masalah ini dahulu sering dibahas untuk dicarikan solusinya, mulai dari kemungkinan joint force patrol antara Indonesia, Malaysia dan Filipina sampai kepada penempatan pasukan bersenjata (armed force on board) diatas konvoi tongkang tongkang tersebut. Opsi pertama sepertinya tidak akan terlaksana karena Malaysia tidak punya kepentingan ekonomis di pelayaran tersebut, dan mereka pasti lebih suka melihat Indonesia tidak bisa melakukan ekspor menggunakan kapalnya sendiri.

Dalam beberapa kesempatan, ada instansi-instansi professional jasa pengamanan yang menawarkan penempatan Armed Force yang dianggap bisa menjaga keamanan kapal di rute tersebut. Tetapi hal tersebut masih terganjal dengan adanya moratorium pelarangan diatas.

Berkaca dari sejarah rawannya Selat Sumatera (antara Sumatera dan Malaysia) dahulu, pengguna jasa pelayaran disana tidak serta merta menyerah begitu saja. Dengan berbagai upaya yang dilakukan, kini selat tersebut bisa dibilang aman untuk dilewati.

Pelarangan berlayar adalah bentuk tindakan defensif yang paling mudah, dan kita harus terus ikhlas di intimidasi oleh kekuatan sang pengancam, tetapi sampai kapan ini terus berlangsung? Negara kita yang sudah kesulitan mendapatkan hasil freight atas komoditinya, akan semakin terpuruk dengan tidak adanya solusi atas keadaan ini.

Sewajarnya pemerintah membuka opsi lain selain pelarangan tersebut, karena lemahnya industri pelayaran di negara ini akan menjadi rejeki pelayaran negara lain dan itu sangat dinikmati oleh mereka. Untuk saat ini kita masih harus ikhlas menerima bahwa Foreign Ships Follow our Trade.

sumber: emaritim 

Minggu, 01 April 2018

Waskita Karya: Semua Kerugian Di-Cover Asuransi


PT Waskita Karya Tbk (WSKT) belum mengetahui berapa total kerugian akibat konstruksi ambruk di sejumlah proyek layang (elevated). Hanya saja, BUMN konstruksi ini mengungkapkan bahwa proyeknya telah di cover asuransi.

Direktur Operasi II Waskita Karya Nyoman Wirya Adnyana mengatakan, kerugian tersebut masih dihitung karena masih dalam proses investigasi.

"Tapi yang jelas tadi kan saya sudah sampaikan bahwa itu termasuk cover dangan CAR asuransi," tuturnya, di Kemenkominfo, Jakarta, Kamis (22/2/2018).

Dia melanjutkan, berapa nilai ataupun range kerugian tergantung pihak asuransi yang menghitung. Pasalnya, sejak awal proyek dikerjakan Waskita Karya langsung mengasuransikan seluruhnya.

"Kita asuransikan total, nah itu dia akan liat berapa sih yang kejadiannya kemarin insiden itu apakah Rp10 atau Rp20 akan dicek," tuturnya.

Menurut Nyoman, asuransi masuk ke dalam bagian Tim Evaluasi Proyek Elevated. Artinya, evaluasi bisa selesai kurang lebih dalam waktu dua minggu. "Kita kerjasamanya ada sama Jasa Raharja dan perusahaan-perusahaan BUMN. Kalau satu paket satu perusahaan," ujarnya.

Saat ini, evaluasi sedang dilakukan dengan menunjuk Tim Evaluasi Proyek Layang yang dipimpin Budi Harto selaku Direktur Utama Adhi Karya. Sejauh ini, baru satu proyek layang yang diizinkan untuk kembali dikerjakan yakni Jembatal Holtekamp, Papua.

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pun tidak mau berspekulasi, jika seandainya ada lagi kecelakaan konstruksi proyek layang, pasca evaluasi. Malahan pemerintah belum mau memikirkan apa yang dilakukan jika kejadian serupa terjadi.

Tercatat kurang lebih ada 14 kecelakaan konstruksi yang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun terkahir. Dari 14 kasus tersebut, 6 diantaranya merupakan proyek konstruksi yang digarap oleh Waskita Karya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun meminta seluruh proyek layang (elevated) yang tengah dikerjakan dihentikan sementara. Hal tersebut berimbas pada penghentian sementara proyek besar di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Presiden menegaskan, penghentian proyek elevated tersebut, tidak hanya pada infrastruktur jalan tol, tetapi menyeluruh termasuk light rail transit (LRT) dan fly over di seluruh Indonesia. Jokowi juga meminta agar seluruh proyek pembangunan yang dilakukan pemerintah diawasi ketat secara rutin.

sumber: okezone

Kamis, 29 Maret 2018

Kebakaran Alat Bongkar Muat MTI : IMLOW Usulkan Bentuk Komite Independen Keselamatan Pelabuhan


Pegiat serta pemerhati logistik dan kemaritiman dari Indonesia Maritime, Logistic & Transportation Watch, IMLOW, mengusulkan adanya komite independen untuk pengawasan keselamatan pelayanan di pelabuhan.

Sekjen IMLOW Achmad Ridwan Tento mengatakan komite independen itu bisa berasal dari unsur operator, pelaku usaha, dan pemerhati pelabuhan untuk mengawasi secara berkala seluruh aspek keselamatan di pelabuhan-pelabuhan Indonesia.

"Kejadian di lapangan MTI ini bisa sebagai pelajaran bahwa aspek keselamatan itu jangan kita lalaikan, Mesti dipantau terus menerus karenanya harus ada unsur independen yang melakukan kontrolnya," ujar Ridwan kepada Bisnis, Minggu (25/3/2018).

Dia mengatakan hal itu menaggapi insiden kebakaran alat bongkar muat jenis reach stacker di lapangan Halal Logistic Cold Storage (HLCS) yang dikelola Multi Terminal Indonesia (MTI), di kawasan pelabuhan Tanjung Priok.

"Saya rasa peristiwa itu juga bisa memengaruhi tingkat kepercayaan kalangan dunia usaha terhadap pelabuhan Tanjung Priok," paparnya.

Pada Sabtu siang (24/3), satu unit reach stacker yang sedang dioperasikan di lapangan HLCS MTI terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Lokasi HLCS-MTI berada pada gate utama pelabuhan Tanjung Priok.

PT MTI-anak usaha Pelindo II/IPC, menyewa reach stacker itu dari vendor PT.Wiryo Crane Perkasa yang sekaligus menyiapkan tenaga operatornya.

Komisaris PT.MTI  Toto Dirgantoro mengatakan masih menunggu hasil investigasi atas insiden tersebut.

"Ya lihat dari hasil investigasinya, dan bukan hanya cuma putus kontraknya tetapi kita juga mau lihat prosedurnya sesuai tidak dan apakah betul alat kita kurang sehingga harus pakai vendor," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (25/3/2018).

Dikonfirmasi Bisnis, Minggu, Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Arif Toha Tjahjagama, belum mau berkomentar banyak.

"Kami juga akan lakukan investigasi atas insiden itu," ujar Arif.

sumber: bisnis