Asuransi Mobil Otomate

Paket asuransi Mobil terlengkap dari ACA asuransi yang menyediakan mobil pengganti.

Asuransi Pengangkutan (Marine Cargo)

Asuransi pengangkutan ACA menawarkan proteksi lengkap terhadap risiko-risiko yang mengancam barang Anda yang diangkut baik melalui darat, laut, maupun udara..

Kamis, 18 Oktober 2018

Asuransi Tampung Keluhan Nasabah di BMAI


Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)  menilai akar masalah ketidakpuasan konsumen kepada konsumen disebabkan penyampaian informasi yang tidak utuh.

Perusahaan asuransi cenderung memberikan informasi yang tidak jelas mengenai produk yang mereka tawarkan. Para agen hanya menerangkan manfaat dari produk asuransi yang mereka tawarkan dan tidak menjelaskan risiko-risiko yang tidak dicover perusahaan asuransi.

Berdasarkan data  YLKI pada 2017, jumlah aduan mengenai asuransi menempati urutan ke 7, dengan 32 kasus.

 Kemudian, sebanyak 53%merupakan kasus klaim konsumen ditolak oleh perusahaaan asuransi.

Direktur Eksekutif Asosisasi Asuransi Umum Indonesia, Dody Achmad Sudyar Dalimunthe mengakui peningkatan kepuasan nasabah menjadi tantangan industri asuransi saat ini.

Perusahaan asuransi dan regulator, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terus berupaya dalam menjaga keamanan dan kepuasan nasabah terhadap produk asuransi

“Pada posisi ini menjadi tantangan bagi regulator dan perusahaan asuransi agar menangani pengaduan tersebut dengan baik sehingga timbul kepercayaan masyarakat,” kata Dody kepada Bisnis, Kamis (18/10/2018).

Dody menerangkan beberapa upaya untuk meningkatkan kepuasan nasabah, perusahaan asuransi menampung segala keluhan nasabah dalam sebuah wadah bernama Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI).

BMAI didirikan pada tanggal 12 Mei 2006. Pendiriannya ini sejalan dengan Surat Keputusan Bersama empat Menteri yaitu a) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No.KEP.45/M.EKON/07/2006; b) Gubernur Bank Indonesia No.8/50/KEP.GBI/ 2006; c) Menteri Keuangan No.357/KMK.012/2006; dan d) Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No.KEP-75/MBU/2006 Tentang Paket Kebijakan Sektor Keuangan yang ditetapkan di Jakarta tanggal 5 Juli 2006.. 

Pendirian BMAI digagas oleh beberapa Asosiasi Perusahaan Perasuransian Indonesia yang berada di bawah FAPI (Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia) yaitu Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan Asosiasi Asuransi Jaminan Sosial Indonesia (AAJSI).

Berdasarkan data BMAI terhitung 2006-2017 terdapat 651 kasus yang terdaftar,  461 selesai dalam mediasi, 65 lewat ajudikasi dan 125 selesai di luar yuridiksi.    

sumber: bisnis 

Trans Power Marine (TPMA) Tunda Pembelian 6 set Kapal Batubara hingga Tahun Depan


PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) kembali menunda rencana pembelian 6 set kapal tunda dan tongkang untuk pengangkutan batubara. Sebelumnya perusaan ini berencana untuk menambah 6 set kapal tunda dan tongkang berkapasitas 7.500 - 10.000 ton dengan jenis kapal 300-330 feet dengan perkiraan harga sebesar US$ 2,5 juta hingga US$ 3 juta pada kuartal IV tahun ini.

Rudy Sutiono, Direktur Keuangan Trans Power Marine mengatakan, rencana tersebut kembali ditunda sampai tahun depan karena masih terkendala dengan pihak pemberi pinjaman atau perbankan. "Seharusnya pada kuartal IV ini namun masalah diperbankan masih juga belum selesai karena pihak Bank masih mempertimbangkan untuk memberi pinjaman ke industri sektor pengadaan kapal," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (9/10).

Menurut Rudy, meskipun TPMA memiliki riwayat keuangan dan kinerja yang baik tetapi pihak Bank tidak merta bisa langsung memberikan pinjaman mengingat saat ini industri kapal dinilai masih belum positif.

"Jadi Bank ini pukul rata, mereka melihat investasi dibidang perkapalan ini masih belum kondusif karena sejauh ini ada beberapa perusahaan yang masih terus mengalami kerugian yang kemudian berimbas pada keterlambatan pembayaran pinjaman," ujarnya.

Selain itu, kata Rudy saat ini perbankan juga masih wait and see karena tahun ini sampai April tahun depan memasuki tahun politik dimana semua segmen akan lebih berhati-hati untuk mengambil langkah ekspansi.

"Sekarang semua segmen masih hati-hati ya termasuk perbankan, mereka juga masih terus melihat keadaan pasar maka dari itu kemungkinan pembelian kapal ini ditunda sampai semester dua tahun depan," ujarnya.

Ditanya solusi lain, Rudy mengatakan pinjaman dari bank merupakan opsi yang paling tepat untuk saat ini. "Kalau misalnya kami right issue pun kemungkinan dananya masih kurang jadi pinjaman dari Bank merupakan opsi terbaik," ujarnya.

sumber: kontan 

Rabu, 17 Oktober 2018

Asuransi Mengatur Strategi Ketika Rupiah Loyo


Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) turut berdampak pada pelaku usaha asuransi umum. Setidaknya ada beberapa hal yang terpengaruh oleh pelemahan kurs rupiah.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe mengatakan, salah satu hal yang terpengaruh tren pelemahan rupiah adalah penempatan reasuransi di luar negeri dalam bentuk valas. Jika terjadi fluktuasi nilai tukar, maka perusahaan asuransi harus menghitung selisih kurs apabila nantinya harus klaim ke reasuransi asing tersebut.

Hal kedua, soal premi yang didapat perusahaan asuransi berupa valuta asing dari korporasi multinasional. Jika menerima premi berbentuk valas, tentulah pelaku usaha mesti membentuk cadangan klaim dalam bentuk valas pula. "Fluktuasi nilai rupiah akan mempengaruhi besaran cadangan yang dibentuk tersebut," kata dia, Jumat (12/10).

Hal lain yang ikut terpapar pelemahan rupiah adalah soal ekuitas. Dengan menggunakan mata uang rupiah, imbuh Dody, nilai ekuitas dari para perusahaan asuransi lokal akan terlihat lebih kecil di mata internasional.

Meski tak menunjukan kondisi yang nyata, namun menurut Dody hal ini dapat mempengaruhi persepsi para klien asuransi dari luar negeri. Meski begitu, dia mengklaim industri ini masih mampu menahan efek dari pelemahan tersebut.

Kata Dody, performa industri asuransi umum tetap mengalami pertumbuhan positif. Bahkan premi berhasil menembus dua digit hingga bulan ke delapan tahun 2018. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2018, premi asuransi umum tumbuh 11,47% secara year on year (yoy) dari Rp 34,15 triliun menjadi Rp 38,07 triliun pada Agustus 2018.

"Oleh karena itu, dari sisi perusahaan asuransi sendiri kami yakin tidak akan mengalami dampak yang besar akibat pelemahan rupiah ini," kata dia, Jumat (12/10).

Menganalisa risiko

Presiden Direktur Tugu Insurance Indra Baruna mengatakan, sebagai industri yang melakukan kover risiko, pihaknya terus berupaya melakukan analisis yang tajam terhadap risiko yang ditanggung. "Sehingga hal ini memberi dampak positif terhadap hasil underwriting," kata Indra.

Di samping itu, Tugu Insurance juga didukung oleh modal yang relatif kuat dan strategi investasi yang cenderung konservatif. Meski begitu, ia mengakui peningkatan pengelolaan risiko akan menjadi pekerjaan rumah jangka panjang di tengah kondisi ekonomi global yang masih menantang.

sumber: kontan 

Senin, 15 Oktober 2018

Beban Klaim Naik, Hasil Underwriting Reasuransi Anjlok 38%


Kinerja hasil underwriting industri reasuransi merosot tajam. Kenaikan beban klaim dan beban biaya, menjadi penyebab penurunan hasil underwriting industri reasuransi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai dengan Agustus 2018, industri reasuransi mencatat hasil underwriting sebesar Rp 474,71 miliar. Angka tersebut turun 38% dibandingkan periode sama di tahun lalu yakni Rp 765,70 miliar.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimuthe menilai, penurunan hasil underwriting industri reasuransi karena terbebani oleh kenaikan pendapatan premi, beban klaim dan beban biaya.

“Dengan demikian, jika klaim semakin besar dan daya juga tinggi, maka akan berdampak pada hasil underwriting industri reasuransi yang kecil,” kata Dody kepada Kontan.co.id, Senin (15/10).

Di periode yang sama, industri reasuransi mengumpulkan perolahan premi sebesar Rp 12,11 triliun, naik 30,4% secara year on year (yoy). Sayangnya, kenaikan tersebut diikuti peningkatan klaim bruto 28,57% menjadi Rp 4,50 triliun.

Perusahaan reasuransi juga mesti menanggung beban pemasaran, serta beban pegawai dan pengurus yang tinggi. Beban pemasaran sendiri naik 23,38% menjadi Rp 25,54 miliar, kemudian beban pegawai dan pengurus naik 33,01% menjadi Rp 267,78 miliar.

PT Reasuransi Maipark Indonesia juga mencatat penuruhan hasil underwriting. Sampai dengan Agustus 2018, perusahaan ini mencatat hasil underwriting Rp 34,8 miliar, atau turun 15,9% dari tahun lalu, Rp 41,4 miliar.

Direktur Maipark Heddy Pritasa mengatakan, penurunan hasil underwriting itu disebabkan beban klaim meningkat akibat gempa yang terjadi di Lombok, dari Rp 14,5 miliar menjadi Rp 36 miliar.

“Kinerja keuangan pasti menurun, tapi etos kerja kami secara umum tetap positif. Apalagi adanya gempa di Lombok dan Palu diharapkan bisa membangun kesadaran masyarakat, dan menaikan pertumbuhan asuransi gempa bumi,” jelasnya.

Hal serupa terjadi pada PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re yang mengalami penurunan hasil underwriting dibandingkan tahun lalu. Tapi, Direktur Indonesia Re. Kocu Andre Hutagalung mengaku pihaknya tetap mencatatkan hasil underwriting positif.

“Hasil underwriting masih baik dan positif, walaupun tidak sebaik tahun lalu,” ungkapnya.

Menurutnya, kinerja hasil underwring mengalami tantangan karena biaya akusisi telah yang menekan komisi reasuransi. Komisi ini merupakan biaya survei risiko yang dapat ditagihkan perusahaan pilang kepada perusahaan asuransi, yang beberapa tahun terakhir peningkatan beban ini semakin menekan margin industri.

“Tantangan terbesar, di mana pendapatan premi tertekan karena biaya engineering fee yang masuk dalam biaya akuisisi. Padahal, engineering fee awalnya bukan biaya akuisisi tetapi biaya risk improvement, tapi sekarang tidak dibukukan ke dalam komponen teknis tapi biaya usaha,” imbuhnya.

Maka untuk menghadapi penurunan hasil underwriting ini, Indonesia Re akan tetap fokus menjaga batas pendapatan premi, agar kondisi hasil underwriting lebih baik di tahun mendatang.

sumber: kontan 

Minggu, 14 Oktober 2018

Begini Dampak Pelemahan Rupiah Bagi Asuransi Umum


Tren pelemahan nilai tukar rupiah turut berdampak pada pelaku usaha asuransi umum. Setidaknya ada hal yang paling terpengaruh dari nilai rupiah yang loyo.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe mengatakan, salah satu hal yang terpengaruh tren ini adalah penempatan reasuransi di luar negeri dalam bentuk valas. Jika terjadi fluktuasi nilai tukar maka perusahaan asuransi harus menghitung selisih kurs apabila nantinya harus klaim ke reasuransi asing tersebut.

Poin kedua adalah soal premi yang didapat perusahaan asuransi berupa valuta asing dari korporasi multinasional. Jika menerima premi berbentuk valas, tentu pelaku usaha mesti membentuk cadangan klaim dalam bentuk valas pula. "Fluktuasi nilai rupiah akan mempengaruhi besaran cadangan yang dibentuk," kata dia, Jumat (12/10).

Hal lain yang ikut terpapar pelemahan rupiah adalah soal ekuitas. Dengan menggunakan mata uang rupiah, Dody bilang nilai ekuitas perusahaan asuransi lokal akan terlihat lebih kecil di mata internasional.

Meski tak menunjukkan kondisi yang nyata, menurut Dody hal ini dapat mempengaruhi persepsi para klien asuransi dari luar negeri.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar menunjukan tren melemah di tahun ini. Nilai tukar rupiah menyentuh Rp 15.235 per dolar di pasar spot Kamis (11/10), sore.

sumber:  kontan

Jumat, 12 Oktober 2018

Pertumbuhan Premi Asuransi Umum Masih Ungguli Kenaikan Klaim


Industri asuransi umum atau asuransi kerugian masih dianggap sehat pada Agustus lalu. Adanya kenaikan klaim dianggap normal karena laju perolehan premi lebih ngebut.

Sampai dengan Agustus 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pendapatan premi industri asuransi umum mencapai Rp 44,45 triliun atau naik 10,95% secara year on year (yoy). Sedangkan klaim naik 1,38% menjadi Rp 17,57 triliun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimuthe mengatakan, kenaikan premi disertai kenaikan klaim sebagai sesuatu yang normal. Asalkan, kenaikan klaim lebih rendah dari premi.

“Yang berbahaya itu apabila pendapatan premi tumbuh 1%, sedangkan klaim tumbuh 5%. Kalau sama-sama naik tidak apa-apa, asalkan pertumbuhan premi lebih cepat dari klaim,” kata Dody di Jakarta, Kamis (11/10).

Namun ia belum bisa memastikan berapa kenaikan pembayaran klaim sampai akhir tahun, karena klaim bersifat fluktuatif. Adanya bencana gempa di wilayah Lombok dan Palu, akan berpotensi menaikan jumlah klaim di tahun ini.

“Dengan adanya gempa, klaim diestimasikan naik. Tapi itu masih tetap tergantung bagaimana perusahaan asuransi bekerja sama dengan perusahaan reasuransi untuk membayar klaim, serta mengatur risiko secara tepat,” jelas dia.

PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) bahkan mengalami kenaikan klaim 5% di bulan Agustus 2018. Sayangnya, kenaikan klaim terus berbanding terbalik dnegan pertumbuhan premi yang turun sebesar 3% dari tahun lalu yakni Rp 1,1 triliun.

Meskipun demikian, Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi optimistis perseroan bisa mencapai target premi sebesar Rp 2,1 triliun hingga akhir tahun ini.

“Strategi kami adalah dengan tetap menaikan bisnis, serta berpegang pada underwriting yang prudent,” ungkapnya.

Pembayaran klaim PT Asuransi Adira Dinamuka (Adira Insurance) justru mengalami penurunan. Sampai dengan Agustus 2018, perusahaan mencatatkan klaim sebesar Rp 516 miliar, atau turun 4% secara yoy.

Business Development Division Head Adira Insurance Tanny Megah Lestari mengatakan, penurunan klaim tersebut terjadi karena jumlah transaksi klaim juga menurun. Di sisi lain, Adira Insurance sukses mencatatkan peroleh premi sebesar Rp 1,8 triliun, naik 12% secara year on year (yoy).

“Per Agustus 2018, kita sudah membayarkan 173.900 transaksi klaim, nilainya Rp 516 miliar. Secara transaksi sebenarnya mengalami penurunan sebesar 33% dan secara jumlah mengalami penurunan sebanyak 4%,” jelasnya.

Dari nilai premi tersebut, sekitar 58% bersumber dari produk asuransi kendaraan bermotor dan sisanya produk asuransi non kendaraan bermotor. Asuransi kendaraan menyumbang premi sebesar Rp 1,03 triliun, sedangkan sisanya dari produk non kendaraan bermotor.

Adira menargetkan pendapatan premi Rp 2,7 triliun hingga akhir tahun. Starteginya dengan terus mengembangkan inovasi di bidang teknologi dan digital, yang disertai peningkatan kinerja sumber daya manusia (SDM) dan organisasi di perusahaan.

sumber: kontan 

Kamis, 11 Oktober 2018

Maipark Sudah Terima 58 Laporan Klaim Akibat Bencana Sulteng


PT Reasuransi Maipark Indonesia hingga hari ini, telah menerima 58 laporan klaim akibat bencana yang terjadi di Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah. 

“Sampai hari ini Maipark telah terima 58 laporan klaim akibat bencana yang terjadi di Sulawesi Tengah,” kata Direktur Utama Reasuransi Maipark Indonesia Ahmad Fauzi Darwin saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (10/10).

Dari total klaim yang diterima, Fauzi bilang 23 laporan diantaranya dipastikan memiliki nilai kerugian mencapai Rp 90 miliar. “Sedangkan 25 laporan lainnya belum disertai nilai kerugiannya,” jelasnya.

Dari total klaim yang terus bertambah tersebut, diperkirakan total klaim bisa meningkat lebih dari Rp 200 miliar.

“Berdasarkan data Maipark terkait nilai harta benda yang diasuransikan atau eksposur di kota Palu dan sekitarnya bisa mencapai Rp 2,3 triliun dengan jumlah risiko sebanyak 753 unit bangunan,” tambahnya.

Dari laporannya, Fauzi mengatakan, saat ini klaim masih didominasi berasal dari asuransi properti.

“Klaim yang kami terima ini dari properti seperti bangunan rumah tempat tinggal, pusat perbelanjaan, pelabuhan dan properti komersil lainnya. Ada juga dari perusahaan BUMN yakni properti milik Telkom,” jelasnya.

Total klaim yang berpotensi meningkat ini, menurutnya lantaran hingga saat ini daerah terdampak bencana masih dalam proses pemulihan sehingga proses pendataan belum berjalan maksimal.

Potensi klaim yang dihitung Maipark dikatakan menggunakan software khusus yakni Maipark Catastrophe (MCM). Yakni teknologi menghitung risiko kerugian akibat kerugian gempa dan gelombang tsunami.

Sekitar 90% kerusakan berada di kota Palu, sedangkan sisanya menyebar di wilayah Donggala, Sigi, Mamuju Utara dan Parigi.

“Perkiraan kami setelah tanggal 11 nanti, petugas asuransi bisa mulai masuk ke daerah terdampak bencana. Hal ini karena sampai sekrang masih dalam masa tanggap darurat,” terangnya.

Dadang Sukresna, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) juga mengatakan perusahaan asuransi sudah menunjuk pihak penilai untuk memberikan perkiraan nilai kerugian atas klaim yang diterima.

“Upaya yang dilakukan perusahaan asuransi saat ini untuk melayani nasabah adalah kami telah menunjuk loss adjuster atau penilai kerugian untuk menilai perkiraan kerugian dengan menyampaikan semua risiko yang ada di lokasi, jadi kita jemput bola,” tuturnya.

Selain itu, Dadang juga mengatakan saat ini AAUI masih terus mengumpulkan data terkait laporan klaim properti yang diterima dari perusahaan-perusahaan asuransi.

“Untuk sementara kami baru mencatat klaim dari properti atau bangunan. Sedangkan dari kendaraan bermotor belum ada info yang bisa kami berikan,” pungkasnya.

sumber:  kontan