Asuransi Mobil Otomate

Paket asuransi Mobil terlengkap dari ACA asuransi yang menyediakan mobil pengganti.

Asuransi Pengangkutan (Marine Cargo)

Asuransi pengangkutan ACA menawarkan proteksi lengkap terhadap risiko-risiko yang mengancam barang Anda yang diangkut baik melalui darat, laut, maupun udara..

Kamis, 16 Agustus 2018

Faktor yang Mempengaruhi Indemnitas


PENGERTIAN PRINSIP INDEMNITY.
adalah suatu prinsip yang mengatur mengenai pemberian ganti-kerugian.
Indeminty dapat diartikan sebagai suatu mekanisme dengan mana si Penanggung memberikan ganti-rugi Finansial dalam suatu upaya menempatkan si Tertanggung pada posisi keuangan yang dimiliki pada saat sesaat sebelum kerugian itu terjadi.
Hal ini berarti bahwa Penanggung akan memberikan ganti-rugi sesuai dengan kerugian yang benar-benar diderita Tertanggung, tanpa ditambah atau dipengaruhi unsur-unsur mencari keuntungan atau profit.

       Nilai Kerugian = Nilai sesaat sebelum kerugian - Nilai sesaat setelah kerugian.

HUBUNGAN ANTARA INDEMNITY DENGAN INSURABLE INTEREST.
   Insurable Interest adalah Kepentingan finansial Tertanggung pada objek pertang-gungan itulah yang sebenarnya diasuransikan atau dijaminkan dalam polis.
Karenanya, apabila ada kerugian atau klaim, pembayaran kepada si Tertanggung tentu tidak akan lebih besar dari pada kepentingan finansial yang dimiliki Tertanggung atas objek pertanggungan itu sendiri.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBATASI INDEMNITAS
Faktor-faktor yang membatasi pembayaran ganti-rugi (Indemnitas), adalah :
a.    Sum Insured (Nilai Uang Pertanggungan)
Nilai Uang Pertanggungan merupakan batas maksimum tanggung jawab seorang Penanggung terhadap Nilai kerugian yang terjadi.
(Maximum Liability of the Insurer)

b.    Average

Hal ini berlaku dalam hal Under Insured atau Over Insured :
                                 Sum Insured
            Formula :     ------------------   X   Loss
                                 Value at Risk

UNDER INSURED :
suatu pertanggungan dikatakan Under Insured, apabila Nilai Pertanggungan atas obyek yang dipertanggungan lebih kecil daripada Nilai Sebenarnya obyek pertanggungan tersebut pada saat kerugian terjadi.
contoh : 
Mobil SUZUKI BALENO thn. 2000 dipertanggungkan Rp. 90.000.000,--
Harga pasar mobil tersebut padasaat kejadian Rp. 110.000.000,--
Terjadi kerugian Rp. 3.500.000,-- (kerugian sebagian/Partial Loss)
Maka penggantian kerugian sebagai berikut :
                     90.000.000 
      Penanggung :    -----------------   x  Rp. 3.500.000 =  Rp. 2.863.637,--
              110.000.000
              20.000.000 
Tertanggung :  -----------------   x  Rp. 3.500.000 =  Rp.    636.363,--
             110.000.000                                   _____________
                                                                                       
                                                                    Rp. 3.500.000,--
                                                                    =============    
                                
Terjadi kerugian Keseluruhan atau Total Loss, maka :
Penanggung …………………………….. Rp.   90.000.000,--
Tertanggung …………………………….. Rp.   20.000.000,--

                                                     Rp. 110.000.000,--
                                                                         ===============


OVER INSURED :
suatu pertanggungan dikatakan Over Insured, apabila Nilai Pertanggungan atas obyek yang dipertanggungan lebih besar daripada Nilai Sebenarnya obyek pertanggungan tersebut pada saat kerugian terjadi.
contoh :
Mobil SUZUKI BALENO thn. 2000 dipertanggungkan Rp. 110.000.000,--
Harga pasar mobil tersebut pada saat kejadian Rp.  90.000.000,--
Terjadi kerugian Rp. 3.500.000,-- (kerugian sebagian atau Partial Loss)
Maka Penanggung akan memberikan ganti rugi sesuai kerugian yang diderita-nya, yaitu sebesar  Rp.   3.500.000,--

Terjadi kerugian Keseluruhan/Total Loss, maka :
Maka Penanggung akan memberikan ganti rugi sesuai kerugian yang diderita-nya, yaitu sesuai dengan harga pasar (Market Value), sebesar 
                            Rp.   90.000.000,--

                                        
c.    Excess / Deductible / Own Risk,
Penanggung tidak akan memberikan ganti rugi, apabila nilai kerugian tersebut masih berada dibawah atau sama dengan jumlah nilai tertentu yang menjadi tanggungan Tertanggung.
contoh :
Ass. Kendaraan bermotor    à risiko sendiri Rp. 250.000,-- setiap kerugian
Maka apabila terjadi kerugian dibawah atau sama dengan Rp. 250.000,--, 
Penanggung tidak akan membayar apapun atas kerugian tersebut.

d.    Franchise
Apabila Nilai Kerugian lebih kecil dari Nilai Franchise yang ditetapkan, maka kerugian tersebut tidak dijamin dalam polis. (beban Tertanggung)
apabila Nilai Kerugian lebih besar dari Nilai Franchise yang ditetapkan, maka kerugian dibayar 100 % Nilai kerugian.
contoh :
Nilai pertanggungan Rp. 100.000.000,-   Franchise = 5% = Rp. 5.000.000,-
Nilai kerugian Rp. 3.500.000,-- à  Kerugian tidak dijamin
Nilai kerugian Rp. 5.500.000,-- à  Penggantian Kerugian  = Rp. 5.500.000,-

e.    Limit
Adalah suatu batasan tertentu yang menjadi tanggung jawab seorang Penanggung dalam hal kerugian yang terjadi.
contoh :
Limit pertanggungan untuk Liability Insurance : Rp. 100.000.000,-
Tertanggung menderita kerugian akibat adanya tuntutan dari pihak ketiga sebesar Rp. 250.000.000,-- maka Tanggung jawab Penanggung maksimum sebesar Rp. 100.000.000,-



Rabu, 15 Agustus 2018

Kian Prospektif, Pasar Industri Alat Berat Temui Titik Cerah


Kementerian Perindustrian mengapresiasi kepada PT United Tractors Pandu Engineering (UTPE) atau lebih dikenal melalui brand-nya PATRIA, yang merupakan salah satu anak perusahaan PT United Tractors Tbk.

Perusahaan ini berdiri sejak 8 Februari 1983, dengan fokus usahanya di bidang permesinan dan manufaktur untuk sektor industri alat berat, maritim, dan energi.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartato dalam keterangan persnya ketika mengunjungi pabrik PT United Tractor Pandu Engineering di Cikarang Utara, Bekasi, Kamis (5/7).

Kami berharap pelaku industri alat berat dapat memanfaatkan dengan menguatnya harga komoditas untuk memacu produksinya,ujar dia.

Airlangga menambahkan, industri alat berat berperan penting mendukung kegiatan usaha lain, seperti di sektor pertambangan, pengolahan lahan hutan, pembangunan infrastruktur, serta perkebunan dan pertanian. Hal ini mendukung akselerasi program pemerintah dalam menerapkan kebijakan hilirisasi.

Kebijakan tersebut sebagai langkah untuk meningkatkan ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan untuk mengembangkan produk-produk industri lanjutan, paparnya.

Sementara itu, Presiden Direktur UTPE Hilman Risan menjelaskan pihaknya fokus di bidang permesinan dan manufaktur untuk sektor industri alat berat, maritim, dan energi.

Dari penjualan produk, serta konsolidasi dengan anak-anak usahanya, UTPE memproyeksikan penjualan pada 2018 senilai Rp2,2 triliun. Sebesar 67% ditargetkan dari sektor industri alat berat dan sisanya industri maritime, ujarnya.

Hilman menjelaskan selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, produk UTPE juga telah diekspor ke berbagai negara seperti Rusia, India, Amerika Serikat, Prancis, Australia, dan kawasan Asia Tenggara.

Perseroan juga tengah menyesuaikan diri terhadap perkembangan teknologi industri 4.0, dengan mentransformasi UTPE melalui intelligent plant dashboard. Upaya ini menjadikan rangkaian aktivitas dan value UTPE semakin terkoneksi satu sama lain dengan baik sehingga proses produksi pun lebih baik.

Merujuk data Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), dalam 2 tahun terakhir terdapat kenaikan produksi alat berat. Pada 2016 produksi mencapai 3.678 unit dan 2017 menjadi 5.609 unit. Sementara itu, produksi di kuartal I/2018 tercatat 1.684 unit.

Produksi alat berat sepanjang kuartal pertama tahun ini, naik 46,05% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Produksi ini didominasi untuk memenuhi kebutuhan sektor konstruksi dan pertambangan.

Adapun alat berat jenis hydraulic excavator menjadi kontributor tertinggi dari total produksi di kuartal I/2018 yang mencapai 1.534 unit atau 91,09%, diikuti bulldozer 89 unit, dump truck 60 unit, dan motor grader 1 unit. Sepanjang tahun ini, produksi alat berat ditargetkan Hinabi bisa menembus 7.000 unit.

sumber: industry

Senin, 13 Agustus 2018

Komoditas Berhasil Mengungkit Asuransi Alat Berat


Sektor komoditas mulai bergairah sejak akhir tahun lalu membawa berkah bagi asuransi kendaraan alat berat. Ini sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan di sektor alat berat.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, pertumbuhan pembiayaan kendaraan alat berat turut menaikkan permintaan asuransi juga. Sebab, agunan kendaraan pasti akan diasuransikan oleh pelaku multifinance.

Selama ini, asuransi alat berat berada di lini bisnis kendaraan bermotor dan rekayasa. Secara total AAUI memprediksikan, premi asuransi umum tumbuh 10%. Di semester II-2018 Dody yakin, premi asuransi di segmen ini masih akan naik.

MNC Insurance Indonesia misalnya, hingga semester I 2018 mencatat premi Rp 392 miliar. Dari angka itu, kontribusi premi asuransi alat berat sekitar Rp 13,1 miliar, setara dengan 3,4%.

Namun, dibandingkan Juni 2017 pertumbuhan asuransi alat berat naik 29%. "Pertumbuhannya masih seirama. Di semester I-2018 sudah 29%. Untuk target total setahun diproyeksi 20%," ujar Direktur Utama MNC Insurance Sylvy Setiawan akhir pekan lalu.

Adapun, segmen korporasi bisnis asuransi alat berat ini bersumber dari pemasaran broker. Segmen ritel dari keagenan dan multifinance.

PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) pun menyebut premi asuransi alat berat di semester II akan lebih baik dibandingkan semester I tahun ini. Direktur Utama Aswata Christian Wanandi menjelaskan, katalis yang akan mendukung bisnis ini adalah proyek infrastruktur sedang berjalan serta sektor komoditas terus menggeliat.

Hingga Juni 2018, premi Aswata sebesar Rp 830 miliar kontribusi asuransi alat berat masih di bawah 5%. Pun demikian pertumbuhan lini bisnis ini masih sekitar 5% secara year on year (yoy).

Aswata terbilang, selektif dalam memasarkan bisnis asuransi alat berat. Hal ini lantaran dari sisi klaim risikonya terbilang besar. Dus, Aswata tentu memilah bisnis risikonya tidak terlalu tinggi. "Semester II, kami melihatnya masih positif. Dari total premi proyeksi tumbuh 20%," kata Christian, Jumat (10/8).

Apalagi Christian bilang, pertumbuhan bisnis di Kalimantan, Sulawesi dan Jawa menunjukkan permintaan alat berat luar biasa. Tentunya hal ini juga berdampak baik bagi pelaku asuransi umum.

sumber: kontan

Rabu, 08 Agustus 2018

Gempa Bumi Tak Bisa Diprediksi, Baiknya Miliki Asuransi


Bencana seperti gempa bumi tidak bisa diprediksi kapan terjadi. Namun, untuk memberikan perlindungan terhadap diri sendiri, asuransi jiwa penuh sangat disarankan untuk mengalihkan risiko jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim mengungkapkan untuk memproteksi diri dari risiko-risiko yang kemungkinan terjadi. Masyarakat ada baiknya melindungi diri dengan asuransi. 

"Memang kalau dengan bencana atau gempa bumi, asuransi jiwa tidak langsung berkaitan dengan bencana alam. Tapi alangkah baiknya, masyarakat punya perlindungan, jika kenapa-napa kan sudah punya asuransi personal accident," kata Hendrisman dalam konferensi pers Digital and Risk Management in Insurance (DRiM), di Rumah AAJI, Jakarta, Rabu (24/1/2018).

Hendrisman menjelaskan, dengan asuransi jiwa maka pemegang polis bisa terproteksi dan mendapatkan uang pertanggungan jika mengalami kecelakaan. 

Hal ini termasuk jika kecelakaan ketika menyelamatkan diri dari bencana gempa bumi. 

"Celaka memang bisa terjadi kapan saja, termasuk saat menyelamatkan diri dari bencana gempa, kemudian tertiban atap atau musibah lain," imbuh dia.

Untuk mendapatkan perlindungan jiwa ini, perusahaan asuransi biasanya menyediakan berbagai macam produk. Mulai dari asuransi jiwa biasa, asuransi jiwa mikro, asuransi kesehatan hingga asuransi jiwa yang dilengkapi dengan produk investasi seperti unit link. 

Semuanya bisa didapatkan sesuai dengan kebutuhan perlindungan. Untuk premi atau biaya perbulannya bisa disesuaikan dengan jenis produk yang diambil.

"Sebenarnya untuk gempa bumi yang harus dilindungi adalah aset seperti rumah dan kendaraan, sudah ada produknya. Nah kalau untuk diri sendiri, bisa dengan asuransi jiwa yang perlindungannya penuh," imbuh Hendrisman.

Perencana keuangan Eko Endarto mencontohkan kasus kecelakaan akibat gempa bumi. Misalnya seorang pemegang polis asuransi jatuh dari tangga dan meninggal akibat dia terburu-buru untuk menyelamatkan diri.

"Misalnya yang jatuh dari tangga dan meninggal itu seorang ayah dan memiliki anak, dan dia memiliki dana darurat jumlahnya Rp 5 juta, itu paling cukup untuk berapa lama, dengan asuransi jiwa bisa dapat uang pertanggungan," ujar dia.

Menurut Andi, uang pertanggungan yang keluar dari asuransi jiwa ini bisa membackup biaya-biaya yang dibutuhkan paska kecelakaan yang menimpa. 

Andi mengatakan, untuk memilih produk asuransi jiwa harus dipahami produk dengan baik, jadi harus disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini harus dipahami sejak awal, agar tidak ada kekecewaan di masa mendatang. 

sumber: detik

Selasa, 07 Agustus 2018

Asuransi Umum Garap Segmen Ritel


Segmen nasabah ritel asuransi umum bakal mengimbangi segmen korporasi. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, prospek segmen ritel positif sebab risiko sederhana, terukur, dan nilai pertanggungan masih dalam retensi perusahaan asuransi.

Risiko segmen ini banyak diserap dalam retensi penanggung. Akibatnya, profil loss ratio kecil. "Kondisi ini dapat memberikan net premi besar bagi penanggung hingga estimasi profit lebih tinggi pula," kata Dody, akhir pekan lalu.

Berbeda dengan risiko segmen korporasi yang lebih tinggi serta nilai pertanggungan yang harus ditempatkan ke reasuradur yang lebih banyak. Akibatnya, net premi yang didapat lebih kecil dan loss ratio yang tinggi mengakibatkan profit lebih rendah.

Saat ini, segmen ritel berpotensi memiliki kontribusi 40%. Di dalamnya termasuk asuransi kendaraan bermotor dan asuransi kecelakaan diri.

PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) optimistis, bisnis ritel tumbuh dua digit hingga akhir tahun ini. Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi mengatakan, hingga semester I 2018 jumlah premi yang dikantongi sekitar Rp 830 miliar. Porsi ritel berkontribusi 40%.

"Sampai akhir 2018 diproyeksikan naik 10% seiring pertumbuhan nasional asuransi umum positif," kata Christian kepada KONTAN. Guna menggenjot target Aswata akan merilis produk, asuransi perjalanan bertajuk Aswata Travel A+. Aswata juga menjual produk asuransi kecelakaan diri. Di akhir 2018, Aswata membidik premi Rp 2,1 triliun, naik 10% secara tahunan.

Asuransi Sinar Mas juga serius menggarap segmen ritel. Direktur Asuransi Sinar Mas Dumasi M. M Samosir mengatakan, sampai Juni 2018 pendapatan premi sebesar Rp 3,77 triliun. Dari nilai tersebut, kontribusi segmen korporasi 95% dan sisanya ritel.

Untuk mengenjot premi ritel, Asuransi Sinar Mas akan mengembangkan keagenan, produk baru dan layanan untuk nasabah. Perusahaan ini juga akan segera launching mobile application untuk meningkatkan penjualan dan profit.

"Jalur distribusi keagenan kami tumbuh 30% sampai pertengahan tahun ini. Namun kontribusi agen masih 5%," kata Dumasi.

sumber: kontan 

Senin, 30 Juli 2018

Muatan Kapal Indonesia Yang Dinikmati Pelayaran Asing


Masih belum dicabutnya moratorium nomor 183/X/DN-16 tanggal 28 Oktober 2016 tentang pelarangan kapal dibawah 500 GT berlayar lewat laut Sulu (Filipina) oleh pemerintah Indonesia, membuat pelayaran Indonesia seperti mati suri berkepanjangan. Keadaan ini sangat dinikmati perusahaan pelayaran asing di negara yang memiliki ratusan juta ton ekspor batubara ini.

Mandeknya pelayaran semakin lengkap dengan ditundanya pemberlakuan Permendag nomor 82 tahun 2017 untuk memberikan waktu kepada pemerintah Indonesia mempersiapkan armada kapal kapal pengangkut komoditas batubara dan minyak sawit keluar negeri.

Jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya masih tersisa harapan untuk mengamankan sebagian uang freight batubara yang bisa diekspor menggunakan kapal kapal berbendera Indonesia ke negara tetangga terdekat dari pusat industri batubara tersebut.

Seperti diketahui bersama,  industri batubara yang besar hanya terpusat di 3 provinsi Indonesia yaitu Kalimantan Selatan,  Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan.

Jika diukur, jarak dari Samarinda ibukota Kalimantan Timur ke Filipina Selatan berkisar 560 nautical mil, atau kurang lebih sama dengan jarak dari Samarinda ke Surabaya. Dahulu rute ini sering ditempuh rombongan tongkang batubara ke Filipina, sampai akhirnya para perompak di laut Sulu melumpuhkan kegiatan tersebut.

Semenjak maraknya pembajakan kapal di laut Sulu Filipina, pemerintah dengan moratorium Kemenhub (revisi) nomor 183/X/DN-16 tanggal 28 Oktober masih melarang kapal-kapal dibawah 500 GT melakukan pelayaran ke Filipina. Artinya kapal tug boat yang menggandeng tongkang, dilarang berlayar menuju Filipina lewat laut Sulu.

Apabila dilihat dari jenis kapal pengangkut batubara, maka dunia pelayaran hanya menggunakan 2 jenis kapal untuk mengangkut muatan curah tersebut. Yang pertama adalah bulker ukuran 40.000 ton (Handy max) keatas, dan kedua adalah tongkang dengan kapasitas sekitar 8.000 ton. Tidak ada kapal jenis lain yang ekonomis apabila dipakai mengangkut muatan jenis tersebut.

Dengan masih dilarangnya tongkang berlayar ke Filipina (satu-satunya negara luar yang ekonomis dan aman dari aspek inland water nya) maka praktis hampir tidak ada ekspor batubara menggunakan armada nasional, kecuali kapal bulker yang masih sedikit jumlahnya di Indonesia. 

Tidak heran apabila melihat area Ship to Ship di Muara Mahakam dan Barito tempat memuat batubara dari tongkang tongkang ke mother vessel/ bulker, ibarat melihat anchorage di luar negeri. Karena 97 persen bulker yang ada disana adalah kapal bendera asing, sementara rejeki dari uang freight buat kapal bendera Indonesia masih sebatas transhipment dari dalam sungai ke muara nya saja.

Apabila di ekspor batubara ukuran kapal besar kita menyerah karena dianggap belum siap, maka di ekspor batubara menggunakan tongkang kita menyerah di tangan perompak.

Adakah solusi yang bisa dijadikan jalan keluar, agar kita tidak terus menyerah dengan keadaan dan menunjukkan jatidiri sebagai bangsa yang tangguh?

Masalah ini dahulu sering dibahas untuk dicarikan solusinya, mulai dari kemungkinan joint force patrol antara Indonesia, Malaysia dan Filipina sampai kepada penempatan pasukan bersenjata (armed force on board) diatas konvoi tongkang tongkang tersebut. Opsi pertama sepertinya tidak akan terlaksana karena Malaysia tidak punya kepentingan ekonomis di pelayaran tersebut, dan mereka pasti lebih suka melihat Indonesia tidak bisa melakukan ekspor menggunakan kapalnya sendiri.

Dalam beberapa kesempatan, ada instansi-instansi professional jasa pengamanan yang menawarkan penempatan Armed Force yang dianggap bisa menjaga keamanan kapal di rute tersebut. Tetapi hal tersebut masih terganjal dengan adanya moratorium pelarangan diatas.

Berkaca dari sejarah rawannya Selat Sumatera (antara Sumatera dan Malaysia) dahulu, pengguna jasa pelayaran disana tidak serta merta menyerah begitu saja. Dengan berbagai upaya yang dilakukan, kini selat tersebut bisa dibilang aman untuk dilewati.

Pelarangan berlayar adalah bentuk tindakan defensif yang paling mudah, dan kita harus terus ikhlas di intimidasi oleh kekuatan sang pengancam, tetapi sampai kapan ini terus berlangsung? Negara kita yang sudah kesulitan mendapatkan hasil freight atas komoditinya, akan semakin terpuruk dengan tidak adanya solusi atas keadaan ini.

Sewajarnya pemerintah membuka opsi lain selain pelarangan tersebut, karena lemahnya industri pelayaran di negara ini akan menjadi rejeki pelayaran negara lain dan itu sangat dinikmati oleh mereka. Untuk saat ini kita masih harus ikhlas menerima bahwa Foreign Ships Follow our Trade.

sumber: emaritim 

Selasa, 24 Juli 2018

Perusahaan Alat Berat Memanfaatkan Tren Kenaikan Harga Komoditas


Industri alat berat berlomba-lomba mengeluarkan produk baru. Hal tersebut sebagai upaya merespons kebutuhan alat berat yang terus meningkat karena masih tingginya harga beberapa komoditas pertambangan.

Ferdinand D, Investor Relation Strategist PT Intraco Penta Tbk, mengatakan, dalam waktu dekat ini akan ada dua model alat berat baru yang segera mereka luncurkan, yaitu jenis rigid dump truck dan articulated dump truck berkapasitas 60 ton. "Kedua alat untuk kebutuhan galian tambang," kata Ferdinand kepada Kontan.co.id, Rabu (20/6)

Saat ini Intraco Penta memiliki dua anak usaha di bidang keagenan alat berat. Merek Volvo, dan SDLG ditangani oleh PT Intraco Penta Prima Servis. Sementara, penjualan dan layanan alat berat merek Sinotruk, Mahindra, Bobcat, Doosan dan Sany Palfinger melalui PT Intraco Penta Wahana (IPW).

Penjualan alat berat emiten berkode saham INTA di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mayoritas masih berasal dari perusahaan-perusahaan pertambangan. Perusahaan itu berada di wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Secara pendapatan, penjualan alat berat INTA dari Januari sampai April 2018 mencapai Rp 661,5 miliar. Jumlah ini naik 97,9% ketimbang periode sama tahun lalu, yang sebesar Rp 334,2 miliar. "Persentase  tambang batubara, emas, nikel, bauksit menyumbang sekitar 67% dari total penjualan alat berat," terang Ferdinand.

Tidak hanya INTA, PT Kobexindo Tractors Tbk juga melakukan  penambahan produk baru . Untuk menambah portofolio produk, Kobexindo akan mendatangkan alat berat tersebut langsung dari Korea Selatan.

William Jonatan, Direktur Kobexindo Tractors, mengatakan ada dua jenis ekskavator yang siap mereka luncurkan yakni merek Doosan di kelas 30 ton dan 80 ton. "Digunakan untuk keperluan tambang dan juga konstruksi. Model ini jadi penunjang pendapatan perusahaan di tahun berikutnya," kata William.

Beberapa mitra Kobexindo adalah Doosan Excavator (Korea Selatan), Daewoo Truck (Korea Selatan), NHL Terex Truck (China), Jungheinrich Electric Reach Truck (Jerman), Hako Sweeper (Jerman) dan Minsk Farm Tractor (Belarusia).

Martio, Direktur Kobexindo Tractors, menambahkan, rata-rata pemesanan alat berat membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Untuk penambahan merek, emiten berkode saham KOBX  tersebut mengaku belum memiliki  rencana. "Saat ini kita mementingkan ketersediaan spare part agar para konsumen bisa dipuaskan," kata Martio.

Fokus produk lama

Walaupun bisnis tambang masih menjanjikan, tidak semua perusahaan alat berat berminat  mengeluarkan produk baru. PT United Tractors Tbk (UNTR) misalnya, saat ini masih fokus pada produk-produk lama yang sudah eksis di pasaran.

Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan United Tractors, memaparkan, dalam waktu dekat ini pihaknya belum berencana melakukan penambahan tipe baru di segmen alat berat. "Di barang modal perubahan tipe berjarak cukup jauh. Tidak seperti otomotif," kata Sara.

sumber: kontan