Asuransi Mobil Otomate

Paket asuransi Mobil terlengkap dari ACA asuransi yang menyediakan mobil pengganti.

Asuransi Pengangkutan (Marine Cargo)

Asuransi pengangkutan ACA menawarkan proteksi lengkap terhadap risiko-risiko yang mengancam barang Anda yang diangkut baik melalui darat, laut, maupun udara..

Rabu, 13 Desember 2017

Asuransi Banjir, Perhatikan 4 Hal Penting Ini Agar Klaim Kendaraan Bisa Diproses


Meningkatnya potensi cuaca ekstrim pada Februari 2016 berpotensi menyebabkan bencana banjir.

Berhadapan dengan ancaman bencana tersebut, Anda yang memiliki kendaraan sebaiknya tetap waspada meskipun sudah memiliki asuransi yang menjamin risiko banjir.

Pasalnya, sejumlah hal masih perlu Anda perhatikan agar tetap dapat menerima ganti rugi atas klaim asuransi kendaraan.

Basukarno Harji Saputro, Claim Retail Departement Head PT Asuransi Adira Dinamika mengungkapkan sejumlah hal yang harus diperhatikan agar klaimnya dapat diproses atau tidak ditolak.

Pertama, jangan memaksakan kendaraan untuk melewati banjir atau genangan air yang dalam dengan sengaja.

Kedua, jangan mencoba menyalakan atau melakukan starter kendaraan dalam keadaan terendam banjir.

Ketiga, jangan mencoba menyalakan atau melakukan starter setelah kendaraan terendam banjir meskipun nampaknya kering.

Keempat, melapor ke asuransi dalam jangka waktu paling lambat lima hari setelah kejadian.

“Hal-hal tersebut terdapat dalam pasal pengecualian polis yang berlaku di Indonesia bahwa kasus tersebut tidak akan dijamin kerugian dan kerusakannya karena disebabkan oleh tindakan yang disengaja oleh tertanggung atau pengemudi dan dikemudikan secara paksa walaupun secara teknis kondisi dalam keadaan rusak atau tidak layak jalan,” ” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Senin (15/2/2016).

Basukarno menjelaskan jika terjebak banjir, maka sebaiknya segera matikan mesin kendaraan dan cabut baterai aki agar kerusakan pada mesin tidak semakin parah.

“Hubungi call center Adira Care untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut,” ujar Basukarno.

sumber:bisnis

Minggu, 10 Desember 2017

2017 Pertambangan Bergairah, Penjualan Alat Berat Naik 40 Persen Lebih


Perkembangan industri alat berat pada tahun ini menunjukan indicator yang positf. Hal ini tidak lepas dari perkembangan industri pertambangan di Indonesia. 

Chief Administration Officer PT Trakindo Utama Maria T Kurniawati mencatat ada pertumbuhan penjualan alat berat Trakindo 40-45 persen jika dilihat pada perkembangan tahun sebelumnya.

“Di triwulan kedua, penjualan alat berat Trakindo tumbuh sampai 40-45 persen. Itu seiring meningkatnya harga komoditas khususnya batu bara termasuk di Kalimantan Timur, ” bebernya memperkenalkan dozer Cartepillar Cat D9T terbaru di kantor Trakindo Jalan Pulau Balang KM 13, Soekarno Hatta Balikpapan Utara, belum lama ini. 

Menurutnya bisnis pertambanganyang terus tumbuh ini, disambut positif dengan menghadirkan dozer generasi baru Cat D9T yang diharapkan mampu mendukung industry pertambangan. “Ini juga sebagai salah satu upaya kami mengakomodir kebutuhan pelanggan akan alat-alat berat berserta solusi caterpillar,” tandasnya.

Branch Manager Balikpapan PT Trakindo Utama Andi Mauraga juga mengakui  permintaan alat berat diler resmi Caterpillar di Kaltim dibanding tahun lalu sudah mulai membaik bahkan peluncuran Dozer Caterpillar yakni Cat D9T, diyakini akan diterima pelaku industri pertambangan. 

Lanjutnya, tahun lalu, kondisi pertambangan memang lesu seiring kondisi batu bara. Banyak alat berat yang kreditnya macet dan menganggur. “Tahun ini, ketika harga komoditas bergerak positif kami telah menyiapkan beberapa strategi pemasaran,” ujarnya.

Diantaranya membuat program rekondisi alat berat. Saat batu bara anjlok, banyak alat berat yang menganggur. Otomatis, ketika akan dipakai kembali pasti ada yang harus diperbaiki.

“Penjualan alat berat bekas yang sudah diperbarui. Harga jualnya rata-rata di angka 75-85 persen dari harga jual baru,” ucapnya. 

Terpisah, kondisi postif juga dialami PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) yang mencapai 87 persen year to date untuk sektor pertambangan, sedangkan pertumbuhan penjualan alat berat untuk sektor non pertambangan tumbuh 41 persen.

Direktur PT IPPS George Setiadi mengatakan pertumbuhan penjualan unit alat berat merk dagang Volvo ini bahkan mencapai 66 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan pasar penjualan alat berat industri yang mencapai 44 persen.

“Untuk beberapa merek Volvo di wilayah Kalimantan dan Sulawesi ini pertumbuhan penjualan IPPS selama setahun terakhir sudah meningkat lebih dari 100 persen dibanding merek-merek lain,” katanya.

Penjualan merk Volvo laris lantaran adanya tipe dengan kekhususan untuk kegiatan pertambangan, seperti articulated dump truck. Sedangkan pertumbuhan penjualan unit merk lain seperti Komatsu, Hitachi, Caterpillar, dan lain-lainnya, tumbuh 36 persen dalam years on years.

"Pertumbuhan penjualan alat berat selama 2017 disebabkan tentu selain karena industri pertambangan sedang bergairah, juga karena pengalaman kami di alat berat sudah puluhan tahun sehingga dapat cepat mengambil peluang yang muncul setelah beberapa tahun stagnan," tukasnya. 

sumber: wartaekonomi

Jumat, 08 Desember 2017

Asuransi Alat Berat


Periode Jaminan dalam polis Asuransi Heavy Equipment:
  • Jangka Pendek, adalah Periode pertanggungan kurang dari 1 (satu) tahun, dengan perhitungan premi jangka pendek (short period basis)
  • Jangka Satu Tahun, adalah Periode pertanggungan tepat 1 (satu) tahun, dengan perhitungan premi pertahun (annual basis)
  • Jangka Panjang, adalah Periode pertanggungan yang lebih dari 1 (satu) tahun, dengan perhitungan premi 1 (satu) tahun dikalikan periode pertanggungan, dan premi tersebut dibayar sekaligus dimuka
Masa jaminan asuransi alat berat adalah 12 bulan atau 1 tahun sama dengan periode asuransi umum lainnya. Namun jika diminta jaminan asuransi bisa lebih lama atau kurang dari 12 bulan dengan perhitungan premi secara prorata.

Masa jaminan asuransi sangat penting diperhatikan karena jika terjadi kecelakaan setelah berakhirnya masa asuransi maka perusahaan asuransi tidak akan mengganti kerusakan yang timbul.Agar jangka waktu asuransi tidak terlewatkan maka pihak asuransi akan menerbitkan renewal reminder yang dikirimkan minimal 1 bulan sebelum masa asuransi berakhir. Kalau sudah diterima renewal notice segerah memberikan konfirmasi perpanjangan agar tidak ada celah waktu.

sumber: asuransialatberat

Rabu, 06 Desember 2017

Asuransi Gempa Bumi, Tanggap Resiko Bencana di Wilayah "Ring of Fire"


Seperti apa rasanya bermukim di wilayah Ring of Fire (cincin api)? Saya ingin katakan: ngeri-ngeri sedap. Ngeri, karena wilayah itu sering di”goyang” gempa bumi. Sedap, umumnya lahan yang terdapat disana subur. Dari lahan subur itu masyarakat merenda hidup, membangun perekonomian. Oleh karena itulah, mereka tak beranjak dari sana meski terus menerus di”goyang” gempa bumi.

Pulau Sumatera salah satu contohnya. Wilayah ini termasuk dalam jalur Ring of Fire Pasifik. Jalur yang berbentuk tapal kuda, mencakup wilayah sepanjang 40.000 kilometer. Wilayahnya mengelilingi cekungan Samudera Pasifik, dikenal sebagai kawasan yang paling sering dilanda gempa bumi dan letusan gunung api.

Buktinya, barangkali kita masih teringat peristiwa 26 Desember 2004, ketika wilayah paling  barat Pulau Sumatera di”goyang” gempa 8,9 skala richter. Bukan itu saja, gempa dahsyat itu diikuti Super Tsunami yang menyapu hampir seluruh daratan Provinsi Aceh. Bencana itu juga menghancurkan ribuan bangunan dan permukiman, serta merenggut korban jiwa yang mencapai 150 ribu jiwa lebih.

Tidak berhenti disana, tanggal 2 Juli 2013, gempa bumi dengan kekuatan 6,2 SR kembali meng”goyang” Dataran Tinggi Gayo meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Gempa tektonik yang dikenal dengan nama Gempa Gayo itu melumpuhkan 2/3 wilayah Aceh Tengah karena sebagian besar infrastruktur, bangunan, gedung sekolah, permukiman bahkan sampai merenggut puluhan korban jiwa.

Kenapa Dataran Tinggi Gayo rawan gempa bumi? Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Faizal Adriansyah melalui Okezonedotcom (3 Juli 2013) mengatakan: gempa yang terjadi di Dataran Tinggi Gayo akibat pergeseran sesar Sumatera atau patahan Semangko.

Patahan Semangko memiliki sesar-sesar kecil yang menyebar pada beberapa wilayah di Aceh, baik di utara maupun di selatan seperti patahan Lokop-Kutacane, Blang Kejeren-Mamas, Kla-Alas, Reunget-Blang Kejeren, Anu-Batee, Samalanga-Sipopoh, Banda Aceh-Anu, dan Lamteuba-Baro.

Gambaran tersebut mempertegas kepada warga di Provinsi Aceh, khususnya Dataran Tinggi Gayo, bahwa mereka sedang bermukim diatas sesar Sumatera atau patahan Semangko. Berdasarkan  fakta empirik itu, mau tidak mau warga di kawasan tersebut harus “bersahabat” dan tanggap resiko bencana gempa.

Untuk melindungi diri dan keluarga, semua konstruksi di daerah ini harus mengacu kepada  bangunan ramah gempa. Kemudian, semua warga harus memahami cara menyelamatkan diri ketika gempa meng”goyang” kawasan tersebut. Paling penting, warga perlu berpikir untuk  mengsuransikan jiwa, aset dan bangunan yang dimiliki.


Orang Kaya Jatuh Miskin

Soalnya, gempa yang terjadi dengan skala diatas 6 SR, biasanya akan menghancurkan  bangunan, gedung dan aset yang dimiliki warga. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, orang kaya bisa jatuh miskin, bahkan orang miskin bisa makin miskin. Penyebabnya, para korban gempa telah kehilangan segala harta bendanya, baik tempat tinggal, tempat usaha, maupun lapangan pekerjaan.

Dalam kondisi seperti itu, sesungguhnya semua korban gempa ingin segera recovery. Sayangnya, jangankan dana cash, aset yang dimiliki sudah hancur semuanya. Ujung-ujungnya mereka pasrah, menunggu bantuan pemerintah atau donatur yang bermurah hati.

Ironi dan kepedihan seperti itu bukan isapan jempol. Hal seperti itu sudah dirasakan langsung oleh salah seorang  korban Gempa Gayo, Haji Rasyid. Pengusaha Oro Kopi Gayo Takengon yang beromset puluhan juta rupiah per hari itu nyaris putus asa karena tidak mampu untuk recovery.

Sebagaimana diungkapkan Haji Rasyid dalam buku Hikayat Negeri Kopi (2016) halaman 207, bahwa utang untuk membangun laboratorium uji cita rasa kopi belum lunas. Dia tidak tahu bagaimana membayar utang ke bank sementara tempat usahanya sudah hancur.

“Saya tidak mengasuransikan gedung itu. Mungkinkah pihak bank akan memberi kemudahan?” gumam Haji Rasyid.

Ungkapan itu dibeberkan Haji Rasyid tanggal 21 Juli 2013 ketika saya berkunjung ke komplek Oro Kopi Gayo. Disana, saya melihat semua bangunan sudah kupak kapik. Seperti laboratorium uji cita rasa kopi sekaligus sebagai tempat roasting kopi, bangunan megah yang baru selesai dibangun, tidak luput dari kehancuran. Dinding dan struktur bangunannya pecah dan patah, nyaris tidak dapat digunakan sama sekali.

Haji Rasyid terpaksa memindahkan pusat roasting ke sepetak ruang kantor yang masih bisa digunakan meskipun dindingnya retak. Ruang itu sangat sempit, luasnya hanya 12 meter²,  sehingga para pekerja tidak bisa bergerak secara leluasa. Dalam kondisi darurat, sesungguhnya semua itu bukan kendala.

Kata Haji Rasyid pada waktu itu, usaha harus berjalan, pesanan (order) pelanggan harus dipenuhi, dan gaji pekerja harus dibayar. Ruangan itu memang sempit dan kurang memadai untuk melanjutkan proses produksi, tetapi harus digunakan demi keberlanjutan usaha.

Menghadapi masa-masa sulit seperti itu, lelaki paruh baya itu merasa "menyesal" tidak mengasuransikan aset dan bangunan miliknya. Seharusnya, dia bisa recovery dengan cepat apabila ada pertanggungan asuransi. Bangunan dan aset yang rusak bisa diperbaiki dalam tempo sesingkat-singkatnya sehingga produksi akan berjalan seperti sediakala.

Tetapi, kata lelaki itu, di daerah itu sepengetahuannya belum ada asuransi yang mau memberi pertanggungan terhadap kerusakan akibat gempa bumi dan bencana alam. Para agen asuransi menganggap bahwa kerusakan akibat gempa bumi sebagai kuasa tak terlawan (force majeur).

sumber: kompasiana

Senin, 04 Desember 2017

Mengasuransikan Banjir


Dalam kurun waktu tahun 1970-2012, banjir di Thailand tahun 2011 memecahkan rekor klaim asuransi banjir terbesar di dunia. Data Swiss Re (2012) menyebutkan klaim asuransi US$12 miliar atau 1850% dari premi asuransi properti. Kerugian asuransi mencapai 3,44% dari produk domestik bruto (PDB) Thailand.

Banjir makin menjadi ancaman serius di dunia. Dampak banjir menyengsarakan 500 juta orang di dunia per tahun. Klaim naik signifikan dari U$1-2 miliar di tahun 1970-an menjadi US$15 miliar di tahun 2011.

Di Indonesia, sejak tahun 1815, bencana yang paling sering terjadi adalah banjir yang mencapai 38%. Disusul tanah longsor dan puting beliung masing-masing 18% (BNPB, 2013).

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mengestimati klaim asuransi akibat banjir Jabodetabek bulan Januari lalu sekitar Rp3 triliun. Lebih besar dari klaim banjir tahun 2007 (Rp2,063 triliun) dan 2012 (Rp1,52 triliun).

Klaim asuransi Indonesia akibat banjir ini kurang dari 0,04% dari PDB Indonesia. Jauh lebih kecil dibandingkan kerugian asuransi di Thailand saat banjir tahun 2011.



Banjir di Thailand memang jauh lebih besar. Namun besarnya kerugian asuransi menunjukkan bahwa properti yang diasuransikan di Thailand sangat besar. Sedangkan properti yang diasuransikan untuk risiko banjir di Indonesia masih sangat kecil.

Rakyat Thailand memang lebih sadar asuransi. Data Sigma (2012) menunjukkan bahwa insurance penetration (perbandingan premi dengan PDB) di Thailand sebesar 4,4% atau berada di posisi ke-34 dunia. Sedangkan Indonesia sebesar 1,7% atau di posisi ke-67.

Mengapa tidak berasuransi?

Banjir menjadi risiko yang mengancam properti seperti rumah, pabrik, kantor dan lainnya. Termasuk mengancam kendaraan serta jiwa dan raga manusia.

Masyarakat atau perusahaan dapat memilih asuransi sebagai mekanisme transfer risiko. Risiko kerugian akibat banjir tak ditanggung sendiri, tetapi dipindahkan ke perusahaan asuransi. Ada beberapa alasan umum mengapa masyarakat belum/tidak berasuransi.

Pertama, merasa bisa mengatasi risiko banjir. Pertimbangannya, risiko banjir dianggap kecil atau sudah melakukan langkah preventif. Berasuransi dianggap membuang duit karena tanpa asuransi, banjir sudah dapat diatasi.

Risiko banjir memang tak perlu diasuransikan ketika hasil analisis risiko menyatakan bahwa peluang terjadinya banjir dan/atau dampaknya kecil. Juga saat upaya preventif telah dilakukan sehingga efektif menurunkan risiko banjir.

Kedua, tidak tahu manfaat asuransi. Bahkan tidak mengerti bahwa risiko banjir bisa dipindahkan ke perusahaan asuransi. Ini terjadi pada orang-orang yang tidak kenal asuransi.

Persoalan ini adalah tantangan bagi industri asuransi. Perlu sosialisasi menerobos ke seluruh lapisan masyarakat agar asuransi dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ketiga, khawatir bayar premi mahal. Masyarakat sudah memiliki persepsi tentang asuransi dan kemudian mengambil jarak. Ini juga seharusnya tak perlu terjadi.

Harus ada penjelasan dan ilustrasi ke masyarakat. Tarif premi perluasan risiko banjir untuk properti sekira 0,5 per mil. Jaminan banjir memang masih dalam bentuk perluasan jaminan dari asuransi kebakaran.

Sebagai contoh, rumah seharga Rp100 juta (bangunan dan isi, tidak termasuk tanah). Bila tarif asuransi kebakaran 0,56 per mil, maka preminya Rp56 ribu setahun. Dengan tambahan jaminan risiko asuransi banjir, tarif 0,5 per mil, maka tambahan premi sebesar Rp50 ribu setahun.

Ada juga perusahaan asuransi yang memberikan paket asuransi rumah dengan tarif 0,14 persen untuk jaminan yang lengkap. Tak hanya jaminan di Polis Standar Asuransi Kebakaran Indonesia/PSAKI (kebakaran, petir, ledakan, kejatuhan pesawat dan asap), juga ditambah dengan jaminan banjir, kecelakaan diri keluarga, pencurian, biaya tinggal sementara dan lainnya. Cukup dengan premi Rp140 ribu setahun, sudah mendapatkan jaminan yang banyak.

Di tengah persaingan asuransi yang ketat, tarif premi masih bisa ditawar atau minta diskon. Tentu saja, ada tarif yang lebih besar untuk wilayah yang rawan banjir.

Keempat, khawatir ribet bila mengajukan klaim. Kekhawatiran ini wajar. Tak jarang di media massa dimuat keluhan pelayanan klaim asuransi. Baik klaim ditolak, proses lama atau pembayaran tak sesuai tuntutan.

Persepsi negatif ini harus dikikis oleh industri asuransi untuk memberi palayanan klaim yang cepat dan cermat. Masyarakat juga perlu dididik untuk memilih perusahaan asuransi yang bagus dalam pelayanan.

Kelima, masyarakat tak mampu bayar premi. Ilustrasi premi di atas memang ‘hanya’ Rp50 ribu. Tapi bagi masyarakat berpenghasilan rendah, nilai itu cukup signifikan untuk kebutuhan lainnya.

Mengatasi masalah ini, perlu ada dukungan pihak lain yakni pemerintah. Bentuknya bisa dalam subsidi premi. Industri asuransi perlu membahas dengan pemerintah dalam menyelenggarakan asuransi banjir untuk masyarakat.

Kecukupan jaminan & memahamkan tertanggung

Klaim akibat banjir paling banyak dari asuransi harta benda dan asuransi kendaraan. Klaim untuk jenis asuransi lain, termasuk asuransi jiwa, tidak besar.

Tidak semua polis asuransi menjamin risiko banjir. Ini harus dijelaskan ke tertanggung (pemegang polis). Asuransi harta benda tidak menjamin banjir bila polisnya hanya PSAKI.

Mobil yang terendam juga tak akan diganti kerugiannya bila polisnya tanpa perluasan risiko banjir. Jaminan komprehensif dalam asuransi kendaraan (sering disalahsebut all risks) dalam Polis Standar Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia (PSAKBI) juga tak ada jaminan banjir.

Bagi yang tidak paham polis, saat diinfokan jenis polis adalah komprehensif, dianggap ada jaminan banjir. Padahal belum ada. Tertanggung seringkali tak paham jaminan di dalam polis asuransi. Meskipun polis sudah di tangan, belum tentu dibaca. Padahal polis adalah perjanjian yang berisi hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Tertanggung tak sepenuhnya paham risiko apa saja yang dijamin dan apa saja yang dikecualikan. Pascabanjir banjir di Jabodetabek Januari lalu misalnya, beredar informasi melalui e-mail dan blackberry messanger bahwa perusahaan asuransi tidak akan mengganti kerugian mobil akibat water hammer yang disebabkan mobil dihidupkan setelah terendam banjir.

Kontan saja, informasi ini membuat ketakutan tertanggung. Di dalam polis sebenarnya jelas disebutkan apa saja yang dijamin dan apa saja yang tidak dijamin. Sederhananya, sepanjang penyebabnya (proximate cause) adalah banjir dan tidak ada pengecualian water hammer, maka polis akan menjaminnya.

Upaya memahamkan tertanggung tentang apa yang ada di dalam polis dapat mereduksi potensi perselisihan di kemudian hari. Broker, agen asuransi dan perusahaan asuransi punya tanggung jawab ini. Upaya preventif ini perlu dilakukan oleh perusahaan asuransi dalam rangka terus memberikan pelayanan terbaik dan untuk menjaga citra industri asuransi di masyarakat.

Kepedulian industri asuransi

Untuk masyarakat menegah ke bawah, perlu diberi stimulus agar mereka berasuransi. Industri asuransi tak perlu melakukan kalkulasi untung-rugi untuk memberikan jaminan banjir kepada mereka. Perlu produk asuransi mikro dengan premi yang ringan. Bentuk lain bisa berupa diskon premi yang signifikan atau jaminan asuransi banjir secara gratis.

Aksi industri asuransi tersebut dapat dianggap sebagai manifestasi corporate social responsibility (CSR). CSR industri asuransi tak perlu ikut model CSR secara umum seperti bentuk filantropi, bantuan bencana atau sejenisnya. Industri asuransi dapat menginisiasi model CSR khas asuransi.

Dengan memberikan jaminan asuransi banjir, bahkan secara gratispun, perusahaan asuransi belum mengeluarkan dana. Pemberian santunan baru diberikan ketika masyarakat terkena banjir. Kepedulian ini akan memberikan citra positif industri asuransi. Kesadaran berasuransi akan terkerek naik. Dalam jangka panjang, akan meningkatkan permintaan asuransi.

sumber: Bisnisglobal, 03/13

Minggu, 03 Desember 2017

Mengintip Megahnya Kapal Perang Rusia di Pelabuhan Tanjung Priok


Kapal perang RNS Admiral Panteleev menyita perhatian warga Jakarta pada Rabu, 29 November 2017. Sebab, kapal perang Rusia tersebut berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Seperti ditayangkan Fokus Pagi Indosiar, Kamis (30/11/2017), meskipun belum dibuka untuk umum, sudah ada saja warga yang datang untuk melihat langsung kapal perang yang memiliki dua peluncur torpedo tersebut. Tentunya, berfoto dengan latar belakang kapal perang.

Kapal perang RNS Admiral Panteleev tiba di Indonesia bersama kapal logistik RNS Boris Butoma sejak 27 November lalu. Rencananya, kapal sepanjang 169 meter yang mengangkut 38 perwira dan 321 bintara akan berlabuh hingga 30 November mendatang.

sumber: liputan6

Rabu, 29 November 2017

Perusahaan Asuransi Tidak Dibenarkan Hambat Klaim Nasabah


Polda Metro Jaya telah menetapkan dua petinggi perusahaan asuransi  PT Asuransi Allianz Life Indonesia menjadi tersangka. Penetapan tersebut, atas laporan nasabah yang merasa dipersulit Allianz untuk mencairkan klaim asuransi.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai, seharusnya perusahaan asuransi membantu nasabahya dalam proses pencairan klaim, bukan malah mempersulit.

"Asuransi tidak dibenarkan meminta dokumen yang tidak relevan atau dapat ditafsirkan sebagai menghambat proses klaim," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (27/9/2017).

Selain itu, dia juga menyoroti kenapa kasus ini muncul sebagai kasus pidana. Menurut dia, sengketa nasabah dengan asuransi harusnya tidak melalui jalur pidana. Sebab, jika melalui jalur pidana maka kedua belah pihak akan sama-sama tidak diuntungkan.

"Tidak menguntungkan karena asuransi adalah produk perjanjian yang bersifat perdata. Bila terjadi sengketa bisa ditempuh mediasi atau arbitrase atau Pengadilan. Jika ditempuh cara pidana tidak penyelesaian secara win-win," jelas dia.

Irvan menambahkan bahwa pihak asuransi di satu sisi juga sagat berhati-hati untuk mencairkan klaim nasabah. Sebab, pencairan klaim rentan terjadi kecurangan dan rentan sebagai sarana tindak pidana pencucian uang.

"Asuransi rentan terjadi fraud claim, terutama double claim. Karena dimungkinkan di asuransi jiwa. Cara mengatasi (perusahaan asuransi) harus lebih hati-hati menilai calon tertanggung terutama dari aspek moral hazard," kata dia.

Sekadar informasi, terdapat dua laporan yang masuk ke Polda Metro Jaya dalam kasus ini. Korban pertama bernama Irfanius Al Gadri dan dan korban kedua Indah Goena Nanda.

Keduanya melapor ke polisi lantaran merasa dipersulit saat melakukan klaim asuransi.

Dalam hal ini, Kompas.com juga telah menghubungi sejumlah pihak dari perusahaan Asuransi Allianz. Namun sayangnya, pihak Asuransi Allianz enggan mengomentari terkait penetapan tersangka tersebut.

sumber: kompas