Asuransi Mobil Otomate

Paket asuransi Mobil terlengkap dari ACA asuransi yang menyediakan mobil pengganti.

Asuransi Pengangkutan (Marine Cargo)

Asuransi pengangkutan ACA menawarkan proteksi lengkap terhadap risiko-risiko yang mengancam barang Anda yang diangkut baik melalui darat, laut, maupun udara..

Jumat, 22 Juni 2018

Asuransi Umum Sambut Senang Tetap Boleh Menjual Produk surety Bond


Pelaku asuransi umum masih dapat memasarkan produk asuransi suretyship atau penjaminan proyek setelah tahun 2019 nanti. Pelaku industri pun menyambut positif mengenai hal ini.

Komisaris PT Asuransi Cakrawala Proteksi Indonesia Dobias Iskandar mengatakan, hal ini berdampak baik bagi perusahaan maupun secara industri. Dengan begitu, perusahaan bisa menjual beragam produk asuransi kepada klien dengan memberikan layanan one stop shopping.

"Seharusnya memang asuransi tetap dikasih kesempatan untuk memasarkan produk asuransi surety ini," kata Dobias kepada Kontan.co.id, Rabu (20/6).

Adapun sampai saat ini porsi produk suretybond Cakrawala Proteksi masih sangat mini yakni di bawah 1% dari total premi.

Senada, Direktur Utama Asuransi Wahana Tata (Aswata) Christian Wanandi mengatakan, dengan masih ditetapkannya pelaku asuransi umum menjalankan bisnis suretyship berimbas positif baik untuk perusahaan maupun industri.

Ia pun yakin produk tersebut bisa bertumbuh di tahun ini sekitar 5% dibanding tahun lalu. Meskipun secara porsi dari jumlah premi masih terbilang kecil yakni sebesar 2%.

sumber: Kontan 


Rabu, 20 Juni 2018

Masih Lesu, Asuransi Umum Tetap Optimis Produk Suretyship Tumbuh 10% Tahun Ini


Salah satu lini bisnis asuransi umum yakni suretyship masih mengalami kelesuan sampai kuartal pertama tahun ini. Kendati begitu, produk tersebut diprediksi akan mulai bergairah di kuartal kedua sampai akhir tahun ini.

Merujuk data AAUI, sampai Maret 2018, premi suretyship mencapai Rp 331,37 miliar. Angka tersebut menurun 8,8% dibanding Maret 2017 sebesar Rp 363,26 miliar.

Direktur Eksekutif Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengakui, bisnis suretyship masih belum bergairah di periode pertama tahun ini sebab belum banyaknya proyek-proyek yang tersedia sehingga hal ini turut berdampak ke bisnis asuransi.

Meski begitu, memasuki pertengahan tahun ini, AAUI yakin bisnis ini kembali terangkat dengan potensi yang masih cukup luas. "Biasanya anggaran turun di pertengahan tahun sampai akhir tahun sehingga mengerek bisnis ini," kata Dody kepada Kontan.co.id, Rabu (20/6).

AAUI memprediksi pertumbuhan asuransi umum di tahun 2018 konservatif sebesar 10%. Dengan demikian, semua lini bisnis asuransi termasuk produk suretyship diproyeksi tumbuh minimal 10%.

Pertumbuhan positif tersebut juga diyakini oleh Asuransi Wahana Tata (Aswata). Hingga akhir tahun ini, Aswata membidik pertumbuhan 5% dari produk suretyship.

Kendati memang, menurut Direktur Utama Aswata Christian Wanandi, saat ini produk tersebut masih berkontribusi mini terhadap premi perusahaan sekitar 2%.

sumber: kontan 



Senin, 11 Juni 2018

Asuransi Kendaraan Tterdongkrak Pertumbuhan Ekonomi dan Komoditas


 Industri asuransi umum diramal bisa menorehkan kinerja yang lebih baik di tahun 2018. Lini bisnis asuransi kendaraan pun menjadi salah satu tumpuan.

Apalagi, lini bisnis asuransi kendaraan memang selalu menjadi salah satu andalan dari pelaku usaha asuransi umum. Bahkan, bisnis ini menyumbang kontribusi hampir setara dengan asuransi properti.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe menyatakan, lini bisnis asuransi kendaraan sempat menyusut pada medio 2017, meski kemudian membaik.

Dody menilai, bisnis asuransi kendaraan tahun ini melaju lebih baik. "Diantaranya karena potensi perbaikan daya beli masyarakat, termasuk di daerah," kata Dody belum lama ini.

Harapan perbaikan daya beli masyarakat muncul diantaranya karena optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi makro yang ditargetkan pemerintah sebesar 5,4%. Di samping itu, dampak tren kenaikan harga komoditas dan pembangunan infrastruktur juga turut mendorong permintaan otomotif.

Dari asumsi tersebut, Dody optimistis pertumbuhan premi bisnis asuransi kendaraan tahun ini tumbuh dua digit.
Direktur Utama Aswata Christian Wanandi berharap, Aswata bisa mencetak pertumbuhan premi asuransi kendaraan sama seperti tahun 2017, yakni sebesar 15%. "Tahun ini mungkin masih bisa tumbuh di kisaran yang sama," tandas Christian.

Untuk mendongkrak bisnis tersebut, Aswata akan menguatkan saluran distribusi. Diantaranya dengan menggandeng lebih banyak lagi mitra, seperti dari kalangan multifinance.
Adapun Direktur PT Asuransi Sinar Mas (ASM), Dumasi MM Samosir menyatakan, premi asuransi kendaraan menyumbang 26% dari total premi perusahaannya tahun 2017 yang berjumlah Rp 5,7 triliun.

Secara umum, Dumasi mematok pertumbuhan premi asuransi tahun ini di kisaran 9%. ASM, akan memaksimalkan saluran agensi, khususnya dengan multifinance yang selama ini menjadi kontributor utama.

sumber: kontan

Senin, 04 Juni 2018

Porsi Asing Dibatasi, Industri Asuransi Indonesia Tetap Menarik di Mata Investor


Kehadiran aturan main soal batas kepemilikan saham asing di industri asuransi dinilai tak akan membuat investor dari luar negeri menghindari potensi bisnis di Indonesia. Pasalnya, peluang yang ada di Indonesia justru dinilai besar.

Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Dadang Sukresna bilang sektor industri asuransi punya potensi untuk terus tumbuh positif dalam tahun-tahun mendatang. Makanya hal ini bisa jadi pertimbangan bagi investor asing untuk ikut mencicipi.

Tak cuma bagi pemodal asing, Dadang bilang peluang ini pun sebenarnya bisa jadi pendorong bagi investor domestik untuk lebih banyak bermain di sektor industri ini.

Salah satu dasar optimismenya adalah perkembangan ekonomi secara makro yang dinilai akan terus tumbuh postif. Termasuk dari langkah-langkah yang dilakukan pemerintah guna menstimulus pertumbuhan asuransi.

Sekadar informasi, pemerintah menetapkan angka 80% sebagai batas minimal bagi investor asing dalam porsi kepemilikan saham di perusahaan perasuransian dalam Peraturan Pemerintah nomor 14 tahun 2018.

Di sisi lain, penetrasi asuransi di dalam negeri juga masih terbilang mini. Baik di sektor asuransi umum ataupun asuransi jiwa. "Hal ini mengindikasikan pasar yang masih bisa tumbuh di masa depan," kata dia, Selasa (22/5).

Bagi investor, Dadang menambahkan pergerakan return on equity (RoE) di industri asuransi umum bergerak stabil dalam beberapa tahun ke belakang. Yakni sebesar 13,6% di tahun 2013, lalu 14% di tahun berikutnya.

Meski bisnis asuransi umum beberapa taun ke belakang cukup menantang, namun dia bilang rasio RoE di industri ini masih terjaga di angka 13,8% pada 2015 dan 12,8% di 2016.

Sementara itu, laju bisnis asuransi jiwa dalam lima tahun terakhir pun disebutnya terus meningkat. Dari 2013 sampai 2017, premi bisnis baru yang didapat pelaku usaha sektor ini rata-rata tumbuh 17,2%. Sedangkan untuk premi lanjutan sebesar 12,7%.

sumber: kontan

Minggu, 03 Juni 2018

Kinerja Emiten Alat Berat Bakal Positif Pada 2018


Harga batubara yang stabil dan masih cenderung naik menjadi angin segar bagi kinerja emiten di sektor alat berat. Maklum, seiring membaiknya bisnis pertambangan, permintaan alat berat juga ikut naik.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Juan Oktavianus Harahap mengatakan, bangkitnya sektor pertambangan, khususnya batubara, mendorong kinerja perusahaan alat berat. Sebab, langkah ekspansif perusahaan pertambangan membutuhkan dukungan perusahaan alat berat.

Sektor alat berat juga didukung skema kontrak yang cenderung tahunan, bisa tiga tahun atau lima tahun. Jadi, meski harga batubara turun atau stagnan di tahun depan, perusahaan alat berat sudah mengantongi nilai kontrak penjualan yang cukup tinggi.

Emiten yang dianggap Juan bakal moncer adalah PT United Tractors Tbk (UNTR). Dengan penjualan Komatsu, yang dipandang sebagai merek andalan di segmen ini, UNTR bisa mencicipi manisnya kenaikan harga batubara.

Hal tersebut sudah terlihat dalam laporan keuangan UNTR di kuartal I-2018. Anak usaha Grup Astra ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 2,5 triliun. Angka ini naik sekitar 69% dari periode yang sama tahun lalu. Perusahaan ini juga berhasil meningkatkan volume penjualan alat berat Komatsu hingga 38% menjadi 1.171 unit.

Selain UNTR, ada pula PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) yang tak hanya menjual alat berat, melainkan juga menjual suku cadang. Kinerja HEXA juga dipandang Juan bakal naik signifikan pada kuartal II-2018 ini.

Senada dengan Juan, Kepala Riset Ekuator Swarna Sekuritas David Nathanael Sutyanto menuturkan, kinerja sektor alat berat masih bagus, terdorong kenaikan prospek bisnis tambang. Bisnis alat berat masih positif tahun ini.

Apalagi selama setahun terakhir, sektor batubara sudah menunjukkan geliat untuk melakukan ekspansi. "Nah, sekarang ini saya kira ekspansi akan berjalan dan ini akan mendorong sektor alat berat," ujar David.

Menurut dia, saham sektor alat berat seperti UNTR maupun HEXA masih layak dikoleksi. David optimistis saham UNTR bisa melaju kencang. Oleh karena itu ia merekomendasikan beli dengan target harga Rp 41.000.

sumber: kontan

Kamis, 17 Mei 2018

Prospek Cerah, Perusahaan Asuransi Umum Genjot Segmen Ritel


Pasar asuransi umum yang menyasar segmen ritel diprediksi terus tumbuh karena didorong oleh peningkatan daya beli masyarakat. Sejumlah perusahaan yang awalnya fokus di segmen korporat pun kini mulai melirik pasar ini.

Dody A.S. Dalimunthe Executive Director Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan segmen ritel akan berkontribusi besar terhadap kinerja asuransi umum tahun ini. Apalagi, perusahaan makin gencar meluncurkan produk asuransi yang menyasar pasar ritel.

“Yang pasti dengan semakin banyaknya produk-produk asuransi ke ritel yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan asuransi umum, maka akan meningkatkan pertumbuhan segmen ritel. Hal tersebut sangat memungkinkan didukung dengan maraknya pemasaran melalu jaringan digital dan teknologi finansial,” kata Dody kepada Kontan.co.id, Selasa (15/5).

Menurutnya, segmen ritel mempunyai sejumlah kelebihan ketimbang korporat atau perusahaan. Pertama, nilai pertanggungan ritel relatif kecil, sehingga dalam pencatatan hasil underwriting akan lebih menguntungkan.

Kemudian, segmen ritel sendiri, lebih banyak memanfaatkan kapasitas retensi. Retensi adalah risiko yang ditanggung sendiri oleh perusahaan asuransi dan tidak dilimpahkan kepada perusahaan reasuransi atau perusahaan asuransi lain.

Menurutnya, dengan skema retensi tersebut bisa memangkas trasaksi reasuransi ke luar negeri dan ini menguntungkan transaksi keuangan nasional. Karena dengan ini bisa menekan larinya premi ke luar negeri dan untuk mendukung reasuransi dalam negeri.

Sayangnya, asuransi di pasar ritel di Indonesia masih menghadapi kendala, di antaranya, belum ada kewajiban kepemilikan asuransi untuk kendaraan bermotor dan properti. Padahal, kedua lini bisnis ini berkontribusi besar bagi pendapatan premi asuransi umum di Indonesia.

Hal ini perparah, oleh kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengikuti asuransi juga masih rendah. Di beberapa negara lain bahkan telah mewajibkan adanya asuransi kebakaran dan asuransi kendaraan.

“Di negara lain ada asuransi kebakaran saat akan membangun rumah dan juga asuransi kendaraan bermotor saat membeli kendaraan,” pungkasnya.

Merujuk data AAUI hingga akhir 2017, tercatat bahwa segmen ritel hanya berkontribusi 20% dari total pendapatan premi asuransi umum di Indonesia. Asuransi umum sendiri, mempunyai lini bisnis seperti asuransi properti, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan diri, asuransi kesehatan, asuransi aneka dan lainnya.



sumber: kontan 

Senin, 14 Mei 2018

Pemasaran Asuransi Terorisme & Sabotase Stagnan


Pemasaran asuransi terorisme dan sabotase dinilai stagnan dalam dua tahun terakhir.

Rismauli Silaban, Chief Underwriting Officer PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance), mengatakan pemasaran produk tersebut melalui perusahaannya masih terbilang masih sangat kecil. Bahkan, pemasaran produk itu tidak mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir.

"Permintaan produk terorisme dan sabotase dalam dua tahun terakhir tidak mengalami pertumbuhan," ungkapnya kepada Bisnis, Senin (14/5/2018) malam.

Menurut Rismauli, sejumlah kalangan memang belum merasa membutuhkan produk tersebut. Sebagian lainnya, terkendala dengan biaya sehingga belum memanfaatkan proteksi dari produk itu.

Namun, dia mengakui ada potensi pemasaran produk itu juga dihadapkan pada minimnya pengetahuan masyarakat tentang hadirnya jenis proteksi tersebut.

"Mungkin ada juga yang kurang tahu bahwa ada asuransi untuk terorisme dan sabotase," terang Rismauli.

Terpisah, Ketua Dewan Pengurus Konsorsium Pengembangan Industri Asuransi Indonesia Terorisme-Sabotase (KPIAI-TS) Robby Loho menyatakan realisasi premi dari produk itu secara umum terus mengalami penurunan. Pada tahun lalu, konsorsium hanya meraup premi sekitar Rp6 miliar.

“Pada 2017, realisasi premi konsorsium turun sedikit, paling 10%,” sebutnya.

Kendati begitu, Roby menjelaskan rasio klaim produk ini pun nihil. Kondisi ini juga menyebabkan pemasaran produk tersebut mengalami penurunan.

sumber: bisnis